Minggu, 08 Februari 2009

Tugu Selongsong Bom


Ghaza melepuh. Ribuan orang tunggang-langgang meneriaki kegetiran.. Ledakan beriringan dengan jerit tangis, silih berganti menapaki riuh. Tentara Israel dengan pongahnya menjilati bangunan dengan bom pembunuh massalnya. Dengan dalih membela diri dari serangan Hamas, Israel membombardir Ghaza tanpa memperhatikan penduduk sipil. Mereka mencoba menampakkan kegarangan. Rakyat Ghaza diembargo dengan sempurna, tak ayal kehidupan pun terasa menyempit. Kebutuhan pokok tak lagi mudah di dapat, bantuan luar negeri pun terhenti. Rakyat Ghaza yang cerdik membuat gorong-gorong yang menghubungkannya dengan wilayah di Mesir. Dari sinilah, perdagangan ilegal bawah tanah mereka lakukan. Keterpaksaan ia pertaruhkan dengan kegelapan dan kengerian lorong-lorong hitam, yang di atasnya berderu tembakan dan ledakan. Kemantapan di jalan yang benar adalah yang mendasari mereka untuk terus berbuat mempertahankan hidup.

Seolah telah menyandera Amerika Serikat dengan muka dua-nya, Israel memperoleh dukungan moral dan materi. Israel juga mencoba mengelabui mata dunia. Pos-pos penting di dunia telah mereka kuasai. Yahudi bertebaran sebagai juru lobi yang handal di agen-agen militer dan perekonomian dunia. Dunia mengutuk tidak penuh. Ketidaktegasan dari negara-negara yang berpengaruh membuat Israel melenggang seenaknya menginvasi Ghaza. Legitimasi dari Amerika Serikat adalah kartu trufnya.
***
“Ahmad, apa yang sedang kamu lakukan? Dari pagi hingga saat ini kamu menyisir reruntuhan rumah-rumah penduduk dengan diam dan tak sedikit pun mempedulikan lingkungan. Kamu tampak asyik dengan pekerjaan barumu itu. Tidak adakah hal yang lebih penting yang pantas untuk kamu lakukan; keganasan mereka telah memporak-porandakan negeri kita, banyak saudara kita yang membutuhkan pertolongan.” Tidak ada perubahan aksen pada diri Ahmad. “Ahmad!” Teriak geram seorang kawan yang sedari tadi memperhatikan perubahan pada diri Ahmad. Walaupun pada akhirnya ia memaklumi Ahmad karena kini Ahmad hanya sebatang kara—semua keluarganya tewas di senja yang tenang, ia tetap saja kecewa. Di atas penderitaan orang lain, Ahmad terpaku diam, hanya mengumpulkan selongsong bom.

Ketenangan Ahmad yang diakibatkan oleh rasa pesimis memapaki kehidupan selanjutnya terasa mencekam jika ada orang yang mencoba mengusiknya. Matanya terus tertuju pada bekas-bekas ledakan di tanah Ghaza. Tidak ada yang tahu pasti untuk apa ia melakukan hal itu. Di pundaknya ada karung yang berisi beberapa selongsong bom. Ia tak segan-segan mengais timbunan bangunan yang telah lapuk. Debu yang menempel di sekujur tubuhnya hirau dengan sendirinya. Peluh pun mengental dan lamat-lamat mencair oleh semangat yang terpendam. Kegetiran tertanam di hatinya; ada yang ia tunjukkan pada dunia, sehingga dunia tak lagi menyipitkan mata kepada bangsanya.

“Sebetulnya apa yang hendak kamu capai? Tidak ada yang menggembirakan. Semua runtuh. Harapan kecil yang mereka desuskan tidak lebih dari bualan manis penyumbat mulut kita.” Haidar menghampiri Ahmad sembari membatunya mengambil serpihan dan selongsong bom. Ia berusaha berempati kepada Ahmad, mencari tahu apa yang hendak Ahmad kerjakan. Ia merasa ada yang disembunyikan.

Seolah-olah mengerti maksud Haidar, akhirnya Ahmad berbicara setelah karungnya hampir dipenuhi selongsong bom. “Tidak ada yang terlalu istimewa. Aku hanya mengumpulkan selongsong bekas bom. Lihat, aku sudah dapat banyak.” Ahmad membuka karungnya dan menunjukkannya kepada Haidar. “Kamu ingin membantuku mewujudkan sesuatu? Ya, sesuatu yang mencengangkan, membuat semua manusia merintih, menitikkan air mata dan mengingat sebuah kejadian penting.”

“Untuk sekarang, lebih baik dirimu membantu menyelamatkan korban, membantu mengobati, atau ikut berjuang. Bukannya membuat hal yang belum jelas.”

“Ah, kamu tidak mengerti. Aku memang terpukul dengan kepergian semua anggota keluargaku. Tapi apakah hanya dengan berusaha mengevakuasi mayat kemudian menguburnya, semua terbalaskan dan itu cukup sebagai wujud baktiku kepada mereka? Itu akan berakhir ketika gundukan tanah terakhir disematkan. Orang-orang akan menganggapnya angin lalu karena banyaknya korban yang berjatuhan. Memang, ketika peperangan ini selesai akan dianggap sebagai salah satu bentuk kekejian manusia, tetapi itu seperti ubahnya anak kecil yang lewat di depan kerumunan ibu-ibu yang nongkrong di pinggir jalan, permisi tanpa menundukkan badan dan kepalanya; akan begitu mudah manusia melupakan kejadian ini. Peperangan ini berganti dengan isu yang lebih aktual. Mereka tanpa rasa bersalah melupakan dosa. Keturunan mereka dengan entengnya mengelak dari tanggung jawab.”

“Ada yang terlupakan. Skala prioritas luput dari perhatianmu. Bukankah kebutuhan yang mendesak untuk saat ini adalah membantu para korban, meskipun aku tidak terlalu tahu wujud konkret apa yang ingin kamu ciptakan? Mereka membutuhkanmu, Ahmad. Rakyat Ghaza membutuhkan pemuda dengan segenap dayanya. Anak-anak dan perempuan meraung kesakitan, sedangkan dirimu enak-enakan saja di atas puing-puing bangunan. Mengitari ledakan-ledakan dan mengais-ngais reruntuhan.”

“Bodoh kamu Haidar. Kalau itu yang kamu pentingkan, silahkan kamu ke Rumah Sakit merawat saudara-saudaramu. Hiraukan saya di sini.” Tak sedikit pun mata Ahmad memandang Haidar. Tatapannya terpaku ke bawah. Tongkat besi yang ujungnya seperti sabit ia gunakan untuk mengais selongsong bom. Ketika ada suara besi yang berbenturan, ia menunduk dan meraba-raba benda tersebut. Apabila benar itu selongsong bom, ia memasukkannya ke dalam karung yang ia panggul.

Ahmad berjalan menjauh, menuju tempat persembunyian yang dirasa cukup aman untuk menaruh selongsong bom yang berhasil ia dapatkan. Di dekat reruntuhan bangunan itu terdapat tanah lapang. Daerah itu telah ditinggalkan banyak orang, luput dari pantauan militer. Puluhan selongsong bom yang telah terkumpul, ia tutupi dengan kain lebar bekas pembatas ruang pengajian wanita dan pria di Masjid. Ia cukup kecewa dengan tanggapan sinis dari Haidar, terpaksa ia sendirian berusaha mewujudkan angan-angannya.

Tetapi Haidar mengejarnya. “Tunggu!” Ahmad menoleh kecut; “apalagi yang ingin kamu ributkan. Pergi sana bersama orang-orang lemah itu.”

“Jelaskan sekali lagi! Aku ingin mendengarnya lebih jelas. Aku paham dengan maksudmu.”

“Baguslah kalau begitu.” Ahmad mendekat..

“Kamu tahu siapa bapak monoteisme?”

“Ibrahim.”

“Ya, Ibrahim. Dia pasti menangisi kebengisan anak cucunya. Yahudi lahir dari anaknya Ishaq, sedangkan cikal bakal Islam berasal dari keturunan Ismail. Seharusnya mereka bersaudara. Akan tetapi, mereka bermusuhan, terlepas dari siapa yang salah dan yang benar. Lubuk hatinya pasti merintih melihat peperangan ini.”

“Serangan yang dilancarkan oleh Israel merupakan bukti ketamakan mereka karena telah sekian lama mereka tersisih dari tanah yang dijanjikan. Tanah Palestina adalah tanah suci dari ketiga agama semit: Islam, Kristen dan Yahudi. Tanah suci memang rawan konflik. Setelah perang dunia ke dua. Inggris sebagai penjajah Palestina memberikan sedikit tanah—sebut saja tanah perdikan—karena iba dengan pembantaian yang telah dilakukan oleh Hitler. Merasa diberi hak, Yahudi semena-mena, dengan lahirnya Negara Israel, mereka memperluas wilayahnya dengan jalan pemaksaan. Mereka mengibarkan peperangan.”

“Sebagai anak keturunan bangsa Palestina, yang berhak sepenuhnya atas tanah ini, aku tidak terima dengan perlakuan tersebut. Hatiku berontak. Tetapi aku berusaha memahami diriku; apa yang bisa aku perbuat? Hanya menangisi kepergian keluarga adalah perbuat melankolis yang tak pantas dilakukan oleh seorang pemuda, pergi berperang, kemampuan belum terlatih. Aku ingin membuat tugu...,” suara Ahmad menggantung.

“Tugu?”

“Ya, tugu. Aku merasa mampu mengerjakan sesuatu yang fenomenal dengan membuat tugu. Aku ingin anak cucu Yahudi menyadari bahwa apa yang telah dilakukan nenek moyang mereka adalah keji dan busuk, supaya mereka selalu dibayang-bayangi perasaan bersalah, hingga berubah menampakkan wajah yang rendah hati. Manusia akan selalu terusik dengan kehadiran tugu tersebut. Manusia membutuhkan alat pengingat kesadaran. Tugu itulah yang akan membuat kesadaran manusia menjadi jernih melihat kebenaran. Manusia akan lebih memahami apa itu keadilan. Dengan selongsong bom yang telah aku kumpulkan ini, aku akan membuat tugu yang berbentuk dua manusia yang mati terkena ledakan bom.”

“Bantu aku mengumpulkan selongsong bom lebih banyak lagi, Haidar!” Ahmad memegang pundak Haidar dan sedikit mengguncangnya. Haidar pun mengangguk diam.
***
Seminggu berlalu, atas desakan dunia akhirnya Israel dan Hamas melakukan gencatan senjata, kemudian Israel menarik pasukannya. Akan tetapi, buih-buih permusuhan masih lekat dan tetap berlangsung.

Ahmad dan Haidar yang secara sembunyi-sembunyi mengerjakan pembuatan tugu, terus melanjutkan pekerjaannya walaupun beberapa kecurigaan mulai mencium.

Tak lama kemudian, tugu itu selesai dibuat bersamaan dengan sebuah ledakan bom yang menewaskan Ahmad dan Haidar.

Panitia Hari Kiamat


Saya gemetar semalam. Bayang besar dan gelap menyeruap di ubun-ubun saya, kemudian beralih ke telinga saya; ia membisikkan: "Selamat Anda terpilih menjadi Ketua Panita Hari Kiamat." Tak puas dengan statement itu, saya mencoba berkomunikasi dengannya; "Apa yang Anda katakan tidakkah terdengar lucu?" Suasana senyap menyertai, dan hanya sungging senyum yang saya dapatkan, Ia menghilang tiba-tiba.

Berlanjut ke esok, ia datang lamat-lamat, menyembunyikan diri di balik selimut tebal saya. "Hai, yakinlah dengan keputusan yang dibuat Tuanku. Tuanku tidak mungkin salah memutuskan sesuatu. Anda adalah orang yang tepat." Lagi-lagi ia berbisik, dengan sedikit menghardik. Saya berkacak pinggang. Saya benamkan selimut lebih dalam, saya mencoba menghadirkan ruang tidur. Tetapi kata-kata itu terus terulang sepanjang malam.

Pagi yang mengais sinar menoleh kecut. Saya heran, tak biasanya ia berbuat demikian. Pagi-pagi yang selama ini saya temui adalah pagi yang ramah dan penuh rasa bersahabat. “Apakah pagi ini adalah musuh pagi-pagi sebelumnya?” Ah, saya enggan berbalik, toh lorong masa depan masih gelap dan saya harus membawakannya obor.

Beranjak siang saya masih tergenang di ranjang keras warisan kakek. Mata yang tak mampu terpejam sempurna semalam, membuat mata memerah, menampakkan kantuk. Saya gusar; membolak-balikkan badan menambah sesaknya hati. Berusaha menyingkir hanya mampu menggumamkan kekesalan, tak lebih dari itu. Sepintas tergambar sebuah pantulan. Kontan saya menyibakkan selimut, bergegas ke kamar mandi. Saya tutup pintu kamar mandi keras-keras. Saya tersentak dengan apa yang saya lihat barusan. Saya membasuh muka, berharap menghilangkan bayang getir tadi. Ketakutan yang mengental masih tergambar jelas di pelupuk batin saya yang tertaut melalui mimik wajah.

Malam menggunakan senja untuk menikam siang. Malam mencabut tutup kantung sinar mentari, sehingga tetesan sinar lama-lama hanyut ke comberan. Mulut saya tengadahkan di bawah pipa comberan, kemudian saya menelannya. Saya berharap tubuh ini bersinar terang. Jika nanti bayang gelap dan besar itu datang kembali, ia akan silau terkena sinar tubuh saya. Saya pun tertawa melihatnya berlari terbirit-birit.

Semakin larut, ia pelan-pelan menghampiri saya dengan menjinjitkan kedua kakinya; membuka ujung selimut, mendekatkan mulutnya ke telinga saya: "Selamat Anda terpilih menjadi Ketua Panitia Hari Kiamat." Saya menyeringai kehadirannya dan berusaha menguasai diri. Sejenak tidak ada desir suara yang mengudara. Kemudian saya memutuskan untuk berbicara baik-baik dengannya, "bolehkah saya bertanya?" Ia pun menjawab: "Saya adalah hamba yang diutus untuk menyampaikan kabar ini kepada Anda. Tuanku menginginkan kepastian segera dari Anda. luapkan saja apa yang mengganjal!"

"Apa hari kiamat itu, sehingga memerlukan panitia untuk melaksanakannya?"

Kami terdiam cukup lama setelah saya melontarkan pertanyaan tersebut. Ternyata ia kebingungan. Ia pun meminta izin untuk menghadap Tuannya sebentar; "Besok, saya kembali lagi." Ia melenggang pergi. "Sebentar, tanyakan juga pada Tuanmu, kenapa Ia memilih saya?" Ia menoleh dan berbalik mengangguk.

Hati saya sedikit tenteram melihat ia pergi tanpa membawa kegetiran. Seolah-olah tidak ada kejadian yang mencengangkan, saya berbaur dengan keluarga. Ayah yang setiap paginya menyeruput kopi dan rokok yang tersandar di asbak melihat saya mendatanginya. Ia menutup surat kabar harian pagi. "Apa yang kamu risaukan, tak biasanya kamu tampak kuyu sekaligus terlihat lega." Saya mengambil posisi di sebelah kanan ayah. Saya dekatkan mulut saya di telinga ayah, "apa hari kiamat itu, ayah?" Sejenak ia terhenti, kemudian mengambil rokoknya dan menghisapnya pelan-pelan. "Misteri itu tergambar di banyak kitab suci. Kamu bisa tahu dan membandingkannya di sana." Kata-kata yang terucap bersama keluarnya asap rokok itu membuat saya semakin gelisah. "Selalu saja begini, jawaban instan tak mungkin saya dapat dari ayah." Ayah pun beranjak mengajak sarapan.

Ya, saya mengambil beberapa kitab suci dan mempelajarinya. Secara pribadi saya kagum dengan ayah. Koleksi kitab sucinya tidak hanya enam agama yang diakui di Indonesia. Ia juga memiliki arsip-arsip penting pelbagai macam aliran kepercayaan di dunia. Bagi saya, masih terlampau jauh saya mempelajarinya semua karena penguasaan macam-macam bahasa yang tersaji masih terlalu minim, walaupun sering kali ayah mengajariku tentang teks-teks kuno. Saya putuskan untuk mengambil kitab-kitab suci agama semit dan referensi yang mendukungnya

Ketiganya berbicara hampir serupa, mungkin yang berbeda adalah alur cerita. Setelah mempelajarinya cukup lama, bisa saya simpulkan bahwa hari kiamat adalah saat dimana dunia ini menemukan akhir dengan ditandai kehancurannya, sebagai pintu masuk kehidupan baru; kehidupan yang memiliki rasionalisasi kausalitas—apa yang telah diperbuat memiliki ganjaran. Kehidupan baru inilah kehidupan yang merupakan konsekuensi dari kehidupan sebelumnya.

Benak saya melayang, “apakah hari kiamat adalah sebuah event, sehingga membutuhkan organizer? Sejak kecil saya didoktrin bahwa Tuhan itu Maha Kuasa. Sekali sebul apa yang dikehendaki terjadi. Apa Tuhan menitahkan ini kepada manusia untuk merangkum dunianya sendiri? Di salah satu kitab dijelaskan bahwa datangnya hari kiamat ditandai dengan berbagai ciri. Beberapa diantaranya adalah banyaknya populasi wanita daripada laki-laki, maraknya bangunan-bangunan yang menantang langit, megahnya tempat ibadah tetapi sepi jumlah jamaahnya, dan tanda yang paling dekat adalah terbitnya matahari dari sisi barat. Digambarkan ketika hari kiamat datang, orang-orang yang dijanjikan selamat akan lebih dulu mati, tidak merasakan ganasnya guncangan bumi. Dikisahkan juga ada sosok yang mengerikan, yang menghasut manusia untuk menjadi kafir. Kemudian datanglah sang juru selamat, yang membawakan kedamaian iman.”

“Ah,” ayah menepuk bahu saya. “Ada yang masih kurang jelas?”

“Kematian?” Spontan saya berbicara, “Kenapa tiba-tiba saya bertanya tentang kematian?”

“Kematian akan terjawab setelah kamu merasakannya, selama ini yang beredar adalah panduan bagaimana mati yang baik. Ontologi kematian hanyalah spekulasi.” Mendengar jawaban ayah yang terkesan menggantung itu, saya pergi meninggalkannya sembari memacu kerja otak. Saya kembali ke kamar. Waktu yang tersisa sebelum datangnya malam, saya pergunakan untuk terus menerka-nerka jawaban apa yang diberikan si bayang besar dan gelap itu.

Kematian menurut saya lebih misteri karena kematian sangat dekat dengan manusia dan setiap waktu terjadi, sedangkan menggapai hari kiamat hanyalah dongeng penerka masa. Tetapi pertanyaan yang sering terlontar adalah sama, kejadian apa selanjutnya.

***

“Mungkinkah kejadian yang saya alami dua hari ini hanyalah mimpi? Tetapi hadirnya sosok itu begitu nyata. Hampir tidak mungkin kalau itu mimpi. Jika memang bukan mimpi, ia pasti datang malam ini. Jangan-jangan dia adalah Jibril. Seperti Muhammad ketika menerima wahyu Tuhan untuk pertama kalinya, Jibril terlihat garang di hadapan Muhammad, sehingga Muhammad begitu ketakutan. Tidak mungkin, nanti saya dituduh macam-macam sama otoritas institusi agama. Atau sedang terjadi halusinasi. Itu lebih masuk akal, tetapi gejala apa yang mampu menyebabkan saya berhalusinasi, tidak ada kejadian yang mengguncang mental sebelum kejadian ini.”

“Dddaaaar.....” Pintu kamar tertutup. “Klik,” pintu kamar terkunci. Saya menggigil. Hawa dingin perlahan memasuki ruangan. Dinding terasa lembab. Di luar hujan lebat. Langit hitam semakin pekat. Pucat pasi wajah saya. Selimut menjadi pelindung tubuh.

“Anda tidak perlu ketakutan seperti itu, kami datang baik-baik. Kami memerlukan kerja sama Anda.” Saya tersentak, ia benar-benar datang, tidak lagi dengan bayang gelap dan besar. Ia membawa seorang teman. Mereka seperti mengenakan seragam resmi kahyangan, berwarna putih seperti jubah pak haji tetangga saya. Yang jelas mereka bukan manusia. Saya yakin itu. Mereka melayang di atas tubuhku.

“Apakah yang di sebelahmu itu Tuanmu?” Tiba-tiba mulut saya berbicara tenang.

“Bukan, dia sama dengan saya. Tuan kami tidak mungkin bertatap muka dengan Anda, kecuali setelah peristiwa besar itu terjadi.”

“Jawaban apa yang telah kamu dapatkan?” Saya tidak ingin lagi berbasa-basi.

Seakan ingin segera menyelesaikan tugasnya, mereka menjelaskan bergantian: “Hari kiamat memang sebuah peristiwa besar dari sebuah perjalanan. Maka dari itu, Tuan kami membutuhkan manusia hebat untuk membuat pola yang ideal. Andalah orang yang tepat.”
“Bukankah Tuan kalian adalah Tuan saya juga? Jika memang ya, bukankah Tuan kita adalah Maha Kuasa, Penguasa jagat raya? Mengapa membutuhkan orang bodoh seperti saya?”

“Ya, Tuan kita adalah sama. Sebelum kehidupan diciptakan, Dia sudah merencanakan segala sesuatunya tentang awal dan akhir. Tuan kita Maha Tahu.”

“Kami tidak membawa jawaban pasti. Dia tidak memberi gambaran. Dia hanya memberi ini.” Tiba-tiba dada saya terasa sesak, dan semakin sesak beberapa saat, serasa tertindih sesuatu. Kalimat terakhir yang terucap tadi terdengar kencang dan menghempaskan sesuatu. Lamat-lamat bayang putih mulai memudar.

Saya akhirnya tertidur. Keesokan harinya pagi tersenyum indah. Ia melihat surat pernyataan bermaterai: “Saya yang bertanda tangan di bawah ini menyatakan kesanggupannya untuk menjadi Ketua Panitia Hari Kiamat.” Saya membubuhkan tanda tangan.

Yogyakarta, 5 Februari 2009

Sabtu, 17 Januari 2009

Antara a dan b

Mempertajam kebenaran melalui kata-kata
bukankah kenisbian yang dibuat-buat?

Menghubungkan antara yang benar dan yang indah
bisakah disebut sebagai penggelapan eksistensi?

Memusnahkan musuh kemudian membelai kawan
tidakkah kejahatan?

Logos, nomos dan cosmos,
katanya bertautan
membalut akal yang tersembunyi

masihkah bisa berubah
tak hanya menertawakan arus
sembari terbawa buaiannya

ha, kedua kaki terjuntai
merapal pijakan yang tergontai
antara kanan
dan kiri

Yang Katanya Primitif dan Modern

Aku mengerti kalau aku kecil. Aku tak lebih dari anak kecil yang berusaha memahami kedewasaannya karena yang besar menertawakanku dengan menyematkan doktrin kebenaran. Masyarakat primitif, mereka suka sekali mengajakku mengelilingi arkeologi budayanya, menganggap semua kebanggaan yang mereka miliki pantas diketahui anak kecil. Padahal tak sedikit pun rasa tahuku memintaku untuk mengejarnya. Aku hanya sedikit menganggukkan kepala dan sesekali mencibir di dalam hati.

Kemudian mendung mulai terlihat di pucuk kegarangan langit yang tampak canggung, semakin garang pula mereka menjejalkan ragam arti melalui tanda. Jari telunjuk sang tokoh mengacung di antara genggaman jari-jari lainnya; “Lihat itu, sebentar lagi kegetiran hujan merayapi kami. Suka cita penyabutan harum tanah tak lama lagi dipersiapkan, segenap warga memeriahkan adonan lahan pangan untuk satu musim. Ya, musim ini akan berjalan bersama kemesraan karena kegarangan langit mulai menampakkan keramahannya melalui hujan yang bertalu-talu tanpa membanjiri lahan, yang menjadikan sebab gagalnya panen.”

Rupa-rupa kelakuan mereka yang sempat aku perhatikan; mengayak serpih ketan hitam yang baru saja disemai, wanita-wanita tua mengganjal bibirnya dengan sirih, “untuk memperkuat gigi,” kata nenek di sebelah kiriku, “umurku sudah enam puluh lima, gigiku tinggal tujuh, tapi yang satu tinggal separuh, harta yang paling berharga, yang harus aku jaga sampai mati,” sambil menunjukkan gigi kemerahannya, ia berkata bangga. Suara-suara desingan anak panah tak jarang terdengar melintasi telinga kiri dan kanan, babi-babi pun terkapar bergantian meregang nyawa, sebagai pertanda awal dimulainya pesta babi guling. Mereka, paling tidak seminggu sekali di Kamis malam, berkumpul bersama menyuarakan seruan alam, yang diakhiri dengan persematan babi guling.

Berjalan lebih jauh memasuki kedalaman hutan. Terpahat rapi di dinding batang-batang pohon ukir-ukiran persembahan dewa-dewi. Ada yang menarik perhatianku. Di pohon beringin terdapat gambar laki-laki kekar yang mengangkat lingkaran besar seperti globe. Aku menjadi heran, apakah mereka sudah mengetahui bahwa bumi itu bulat? Tak jauh dari sana, memanjang gambaran api yang tersulut di tengah-tengah pemukiman padat mengelilingi batang pohon. Benar-benar menggambarkan kebakaran hebat yang pernah terjadi. Di banyak batang terlukiskan pelbagai bentuk persembahan kepada dewa dan dewi. Corak kegiatan dan wajah dewa tertentu terpampang jelas. Dewa langit memiliki back ground biru putih yang meluas dengan tangan kanan terjulur ke atas dan tangan kiri menunduk. Masyarakat yang menyembahnya beramai-ramai sempoyongan maju mundur sambil menengadahkan kepala dan kedua tangan ke atas, berjuntai ke kanan dan ke kiri. Jadi, jika ada seorang peneliti ingin mengetahui seluk beluk kehidupan tradisi masyarakat kanibal cukup datang ke hutan dan mendalami apa yang terselubung di balik gambar yang terpahat di batang-batang pohon.

Ke luar dari hutan menemui tumbuh-tumbuhan bakau, kemudian terlihat debur ombak dan kemilau pasir. Terlihat lengang, hanya lautan yang tampak meluas. Aku mendesir di bibir pantai, berlarian kecil menyibak ombak. Terlihat bening, ubur-ubur yang mengaram begitu lucu ditabrak arus. Aku sedikit ke tengah. Karang laut melambaikan tangannya menyapaku, aku pun tersenyum. Ikan-ikan kecil tak kalah menggemaskan. Mereka bersenggama dengan bulu-bulu kedua kakiku. Geli aku dibuatnya.
***
Hari menggunakan senja untuk menikam malam. Bintang-bintang mulai bermunculan lamat-lamat membuat petuah. Pak tua berbaju merah menyolok mata di kegelapan, sedang merapal kata-kata. Tangan kanannya memegang api bohlam, sembari memandang ke atas kemudian menggeser sedikit pandangan ke kiri, jari telunjuk kiri menunjuk sesuatu, “rasi itu membenarkan sesuatu. Aku harus segera pulang.”

Seakan ada hal yang dikhawatirkan, pak tua berlari menyibak hutan, segera menuju perkampungan. Kaki tua itu berubah menjadi sepakan kuda yang begitu mencekam, tak ayal jika semak enggan berusaha memperlambat laju pak tua. “Menyongsong kaki pak tua berarti bunuh,” pikir semak berapologi. Apalagi pekat malam yang semakin menghitam, beranjak sedikit dari kehitaman membuat dirinya bergidik. Ia tahu pak tua memiliki mata seperti senter. Mengeluarkan cairan hitam adalah sia-sia. Kegetiran pak tua memuncak, tatapan jauh menghadirkan warna merah kekuningan menjilati langit-langit, diiringi kepulan biru yang memutih keabu-abuan. Tetapi langit tetap saja pongah, ketenangan wajahnya tak bergeser sedikit pun. Malahan dari titik semburat bintang itu terlihat senyum manis kecut langit, sebagai wujud kegembiraan yang menertawakan. Perhatian terpacu untuk segera menghadirkan kepastian, pak tua terus saja berlari; Memakan lemah yang telah lama hinggap di tubuh lapuknya.

Sementara aku bersandar di tubuh pohon besar, memperhatikan genangan suara kegetiran yang semakin lama semakin keras terdengar, dan suara kaki berlari semakin lama semakin terdengar tipis; apa yang sedang terjadi, pak tua yang aku lihat tadi tampak tergesa-gesa kini samar-samar mendekat.

“Bodoh, anak kecil, cepat pergi!”

”Bangsat,” aku membentak kesakitan.

“Tetap tak beranjak, buta matamu ya?”

Kilatan api yang semakin membesar membalut sekujur tubuh perkampungan.

“Mereka berlari ketakutan, kamu malah bersandar tak berdosa. berhargakah nyawamu demi kejahatan peradaban?”

Aku masih tak mengerti, ternyata Pak tua menghampiriku. Dia mengkhawatirkanku. Aku pun bertanya: “apa yang sedang terjadi?”

Pertanyaan itu membuatnya berlinang air mata, “ada yang aneh dengan kampung itu, waktu yang diperuntukkan mereka telah habis. Saatnya mereka menghabiskan sisa hidupnya di pinggiran. Peradaban yang ada di sebelah meminta tempat di sini, menyeruak melalui api yang berkobar. Yang tergambar di langit adalah binasanya kampung itu.

“Tidak ada yang salah dari kami,” mereka berpikir seperti itu. “Kami menghadirkan tempat yang nyaman bagi anak cucu kami, tetapi orang asing mencoba menguasai kami dengan pikiran asing. Mereka membakar sekam pikir kami dengan kejayaan materi. Sekam-sekam keteraturan yang telah kami tata tercabik-cabik dengan tipu muslihat yang mereka lakukan. Dengan dalih berdagang, mereka membenamkan pisau di belakang kami. Kepercayaan batin kami ternoda dengan Tuhan mereka.”

Mata pak tua menatap nanar kobaran api, “aku tak habis pikir, mengapa mereka menghabisi peradaban demi harga diri?”

“Tadi, setelah aku melihat tanda berakhirnya peradaban kami melalui bintang-bintang yang tersusun pucat menundukkan kepala. Ya, bintang-bintang itu membentuk siluet kepala yang pasrah meratapi nasib, tetapi di bibirnya tergores senyum kepuasan.”

Aku tetap memandang pak tua. Kemudian di berujar kembali setelah sesaat berhenti.

“Mereka adalah wajah komunal yang mendasarkan hidup kekuatan alam. Setiap langkah yang mereka tempuh adalah jalan searah yang dipakai oleh alam dalam mengarungi bahtera masa. Mereka beramah-tamah dengan tumbuh-tumbuhan dan hewan. Keniscayaan untuk bertahan hidup merupakan satu-satunya alasan untuk memanfaatkan mereka. Itu pun ada ritual khusus dalam pemanfaatannya.”

Tidak ada yang berubah dari kebingunganku: “Pak tua, ada dua “mereka” yang berlainan yang kamu sebut, siapa mereka itu?”

“Mereka yang terbakar dan mereka yang membakar. Mereka yang terbakar adalah masyarakat yang mengerti pola berputarnya roda kehidupan tanpa alat yang menjadi bumerang, sedangkan mereka yang membakar adalah masyarakat penjarah aset alam dengan sikap tamak kebendaannya, menghadirkan kebutuhan yang menghantarkan bumerang. Membuat pola instan demi kesenangan instan pula. Nanti kamu lihat sendiri bentuk-bentuk aneh olahan alam yang berlebihan.”

“Sedangkan, kejadian yang sedang berlangsung ini?”

“Mereka yang membakar menggunakan dalih sebagai penyelamat peradaban. Mereka beranggapan peradaban kampung itu tidak lebih menjanjikan dan lapuk termakan jaman daripada peradaban yang akan mereka perbuat.”

“Mereka yang terbakar, dengan menyulut api lebih kencang membenamkan diri mereka ke dalamnya. Mereka berkata: “Tidak ada yang perlu dipertahankan jika harga diri ternoda, sisa peradaban ini hanya jadi penghalang putihnya peradaban kami.” Mereka beramai-ramai masuk ke dalam api, tak menyisakan satu pun meninggalkan artefak peradaban, kecuali tutur kata yang terlahir dari mulut ke mulut.”

“Tetapi mereka keliru, mereka masih mempunyai dirimu. Mereka masih mempunyai harapan.”
***
Aku terhentak di persimpangan jalan. Ternyata aku berdiri di antara primitif dan modern. Aku adalah peninggalan primitif yang hidup di jaman modern. Kesendirianku membawa kesadaran sebuah penamaan. Mereka yang mengatakan jaman di mana mereka hidup adalah jaman modern adalah yang menamakan masa jauh ke belakang di mana mereka meratapi sejarah adalah jaman primitif.

Yogyakarta, 15 Januari 2009

Aku di Kamar

Aku di Kamar

“Jika kamu memang berharap terhadap larinya kemuakan yang lagi-lagi melekat, meretaslah dari naungan asa yang menipumu kemarin sore. Tidur dan buailah tubuhmu, biarkan energimu melemah demi kekuatan yang akan muncul. Enigma takut melihatmu berubah, tunggang-langgang terkebiri. Gelombang yang membentuk simultan terus menerus menampakkan dirinya ke dalam partikel. Genggam erat!”

“Gemuruh padri menyelimuti doktrin, mengikat akal supaya mengerut dengan pelbagai tipuan-tipuan yang diinginkan setiap nafsu yang bergelora. Akal melemah jika nafsu menguat. Keengganan untuk melahirkan sesuatu, seakan tersumbat seperti kran di dapur rumahmu yang dijejali sisa-sisa makanan. Lihat saja penismu!”

Aku getir melihat wajahku. Cermin memarahiku mati-matian.

Ketiakku memburu kejam, menuntut keharuman ada pada dirinya. Ia tak mau tunduk kepada hukum alam. Padahal kamu tahu sendiri, jendela kamarku tak lagi membahana dengan sinar gurindam, pantulannya pun redup dimakan bayangan. Selaksa perih menerkam jika getah yang meluap itu mengejek di pojok selatan bersama buku-buku yang berserakan akibat ulahku semalam. Aku kehabisan daya yang menawarkan pencerahan.

Aku terpaku di bawah garis merah. Garis merah itu selalu menyalahkanku jika aku keliru menyusun kata-kata. Marahnya melebihi marahnya tuan kepada budaknya. Subuh yang masih pekat menggigil merambahi kening untuk mengerut sebagai tanda kesadaran terhadap kebenaran. Udara menari-nari membawa kesejukan di saat satu kebenaran tertangkap dan dapat memantulkan kebenaran yang lain dengan menghapus satu kesalahan. Garis merah mendekat, meneriakkan kata maaf tepat di samping telingaku.

Pukul 08.30, selalu saja, jarum kecil tertahan di persimpangan angka 8 dan 9, sedangkan jarum panjang membujur tepat di angka 6. Aku terpikat untuk menenangkan diri karena di waktu itulah aku kelabakan menentukan aktivitas. Selalu saja, kaki ini membawa sekujur tubuh berjalan ke utara dan selatan, bolak-balik menekur keheningan yang kian memudar. Kebimbangan menyeret kelopak mata ketika penglihatan mulai bening dengan satu pandangan lurus. Itu terjadi hampir setiap hari di depan kamar peninggalan cewek manis, yang di kemudian hari aku tahu bahwa dia meninggalkan kamar itu karena tiga bulan menunggak uang kos.

Pagi merambat siang, rambatan yang sering kali terasa lama. Meja tergetar oleh alunan musik yang keluar dari mulut loud speaker, dengan komputer sebagai pengendali. Buku meminta kembali untuk dipinang. Jejalan huruf yang terasa menyesakkan dada menggoda untuk segera mencumbunya. Aku merebah. Kunikmati dua tumpukan bantal. Di ketinggian memudahkanku untuk membaca. Ya, kini aku membaca sambil tidur-tiduran, posisi yang sangat aku gemari. Bagai merapal mantra, aku mengeja setiap balutan yang ada pada rangkaian bab per bab dari buku itu.

Tak semudah yang aku bayangkan, lamunanku menggelitik untuk melupakannya. Ia membuaiku dengan kesuksesan-kesuksesan semu. Sebut saja, di situ saya dikatakan sebagai orang hebat; memiliki rumah mewah seharga jutaan dolar Amerika, tiga buah mobil keluaran terbaru, istri cantik—yang jika malam tiba sarung memanggilku untuk cepat-cepat mengenakannya, anak-anak yang lucu dan menggemaskan. Lamunan mencekik pemahaman.
***
Aku tinggal di lantai dua sebagai penghuni tunggal, selain penghuni bayangan. Enam kamar yang terdapat di lantai dua, hanya satu yang terisi manusia, di kamar yang menghadap persis ke tangga. Tetanggaku adalah mbah Jenggot, sosok gagah dengan kumis abu-abu dan lihyah—sebutan jenggot untuk mbah Jenggot—sepanjang 30 cm berwarna hitam yang mulai memutih. Ia tidak suka jika orang menyebut jenggot dengan sebutan jenggot, walaupun ia minta dipanggil dengan nama mbah Jenggot. Ia meminta orang-orang jika bertanya tentang jenggotnya dengan menyebutnya lihyah. “Ini sebagai penghormatan kepada guru saya bro. Beliau ketika mengajar sering sekali memegang dan mengusek-usek jenggotnya dan berkata, “lihyah...lihyah.., haadzihi lihyah..”, baru setelah itu ia menerangkan ihwal ulumut tafsir.”

Berteman dengan mbah Jenggot membuatku berjiwa besar, pembawaannya yang supel dan terkadang misterius memberi kesan bahwa ia memang benar-benar memiliki kapasitas sebagai punggawa. Di dalam tidurku ia memberi pelajaran-pelajaran hidup, ia masuk melalui mimpi. Ia tidak menerangkan secara eksplisit, aku disuruh mengejar arti sendiri. Ia menjejalkan pelbagai kisah, kegetiran di malam ini, keesokan berganti harapan, lusa manisnya sebuah pencapaian. Kisah yang dihadirkan pun menempati posisi tertentu di dalam kenyataan. Bahkan pernah mbah Jenggot menghakimiku sepihak karena aku melakukan kesalahan yang menurutnya fatal. Ketika saya meminta rasionalisasi, ia malah menamparku keras dan menghimpitkan sesuatu di dadaku hingga untuk bernapas aku harus berjuang sekuat tenaga.

Mbah Jenggot tinggal di kamar sebelah, di dekat jendela luar. Angin semilir yang tersibak menerbangkan jenggot mbah Jenggot. Suasana seperti itu yang membuat mbah Jenggot bahagia. Setiap sore ia membuka jendela, kemudian duduk di depan meja, ia belajar. “Inilah suasana yang damai untuk belajar bro, lihat ribuan kitab itu, ribuan kali aku membacanya ketika udara membelah sore. Hati tenang membuat konsentrasi tak terpecah.” Tips yang selalu diajarkan mbah Jenggot setiap kali aku mengeluh karena kesulitan belajar.

Hari yang mengesalkan baginya adalah hari Minggu. Tidak ada waktu belajar baginya. Di hari itu, cewek berumur sekitar tiga puluhan merapikan pakaian-pakaian pasca cuci. Gunungan pakaian lamat-lamat tersusun rapi dari pagi sampai sore. Mbah Jenggot merasa gerah ketika panas setrika mulai meluncur di pakaian. Ia juga geli melihat tingkah pola mbak itu ketika bekerja. Bokong seksinya mondar-mandir di depan mata mbah Jenggot.. Sedangkan bagiku, hari itu merupakan berkah. Selain pakaianku yang sebentar lagi akan tertata rapi, mbah Jenggot yang tak kuasa menahan gejolak mengungsi di kamarku. Dan di situ aku banyak berdiskusi dengannya.

Sementara itu, penghuni lainnya selalu membakar hatiku untuk selalu berbuat jahat dan bertingkah konyol. Mengeroyok hatiku untuk segera hengkang dari lantai dua. Mereka terusik dengan kehadiranku karena dengan kehadiranku, pemilik rumah berusaha mengusir mereka. Ada-ada saja polah mereka. Pernah aku dibikin kalut. Pikiran kosongku mereka masuki secara serampangan; menawarkan dahsyatnya kesenangan tertentu. Ribuan kilogram emas mereka tawarkan: “Ini bisa untuk membeli rumah sendiri, jangan kau ganggu kami dengan kehadiranmu.” Tetap saja aku bingung, apakah emas itu bisa dirupiahkan. “Emas kita berbeda, mana mungkin saya membelanjakan emasmu.” Aku menjawab dengan sedikit kesal. Berpikirnya masih cekak.

Sampai akhirnya, kehidupan terus berlalu. Aku hidup mesra bersama mbah Jenggot dan berselisih dengan penghuni lainnya; dan aku sendiri.
***
Pagi itu, makna bersendawa menghina cerobong naluriku:

“Dasar anak kecil, masih saja memandang fragma kehidupan di luar esensi. Meremas jangkar dengan mencampakkan bentuk. Tak tahu diri, kamu umbar kemaluan di hadapan susunan kata-kata. Bantuan mereka malah kamu seret menjauh. Mau jadi apa kamu?”

“Apa pula yang menghardikmu untuk mengecil, hingga mengeras sejenak pun enggan. Lembek sekali sikap yang kamu tunjukkan, hanya di abu-abu tembok yang mengelilingimu, kamu mengumpat tak tahu diri.”

Lagi-lagi cermin memandang bening. Aku menghampirinya, sekejap ada bayang-bayang monyet yang menggelitik benakku. Dia tertawa sembari menggeleng-gelengkan kepala seraya menggaruk sesekali. Tampak tolol dibuatnya. Terus saja menampakkan kepolosannya dalam meratapi kedunguannya. Ya, monyet diriku.

Tiba-tiba ke empat sisi dinding maju dan saling mengimpitku. Aku mengecil. Tersedak oleh kesempitan, aku berteriak: “pergi, aku tak butuh kalian. Sudah bosan aku dengan penipu macam kalian.”

Aku bergidik kedinginan. Pipi keringku basah dengan alir air mata. Selimut tebal tak mampu menyembuhkan. Minyak kayu putih tak ubahnya penghangat biasa. Kaos kaki hanyalah penghalang masuknya angin. Kasur sebatas perebah tubuh. Bantal adalah penyangga kepala. Aku tidur kesakitan di kamar. Sendiri.

Yogyakarta, 17 Januari 2009

Minggu, 11 Januari 2009

Abu-abu Pergantian Tahun

Detik-detik itu berjalan dengan tempo pasti, menuju kehadiran baru. Banyak orang menunggu kedatangannya. Berbagai macam prosesi dipersiapkan untuk menyambutnya. Sang waktu mungkin akan tersenyum melihat penyambutan yang bakal meriah itu; manusia memang aneh, kenapa hanya demi hadirnya sesuatu yang menggerusnya dirayakan dengan sepenuh hati. Tidak takutkah ia terhadap ajal yang terus mengintai. Atau waktu merasa tersanjung dengan perlakuan tersebut?

Anjungan wisata di lereng-lereng gunung dijadikan tempat ideal bagi keluarga dengan vila-vila pelbagai kelas. Selain keluarga, vila juga cocok untuk sepasang kekasih resmi maupun belum, seolah-olah dunia adalah milik mereka berdua bersama hadirnya cinta. Penggiat bisnis membaca gelagat ini, pernak-pernik pun dipahat sedemikian rapi di tempat-tempat strategis, tak lebih dari pemikat. Harga sewa didiskon, berusaha memberi hawa persaingan di antara mereka. Tampak sekilas di media, jalanan dirayapi kendaraan roda empat dari arah utara ke selatan; menunjukkan fenomena keletihan kota, manusia kota rindu keasrian bumi dan menanggalkan sejenak kepenatan. Mereka memanfaatkan momen di sejuknya hawa.

Ada yang malas bepergian jauh, mereka hanya berencana di pucuk keramaian kota dengan pertunjukan musik dan diakhiri dengan letupan kembang api di titik 00.00. Berjuta pasang mata terbius, hatinya berdebam melihat percik-percik api yang membuhul di langit hitam: “Inilah kemeriahan itu, semoga tahun ini adalah tahun kemeriahan seperti keindahan yang terpancar dari bunga api.” Kehidupan kota mencoba memeriahkan suasana.

Sebelum puncak perayaan itu digelar, di pusat-pusat transaksi ekonomi dipenuhi tawaran jasa dan barang berselimut aksen tahun baru. Barang-barang yang mengidentikkan tahun baru diperdagangkan secara modern maupun konvensional. Toko-toko maupun pedagang emperan trotoar dadakan menyediakan terompet dan topi ala tahun baru.

Kelompok-kelompok kecil masyarakat yang mengaku dirinya paham akan pentingnya sahabat intelektual dan enggan menikmati kemeriahan komunal bersembunyi di titik-titik konsentrasi yang mereka tentukan sendri dengan kemeriahan yang coba dihadirkan sendiri pula; bakar-bakar jagung, ayam, atau mungkin bebek. Semua berusaha mengalokasikan tawanya bersama kawan-kawan terdekat mereka, sembari melalukan introspeksi kecil-kecilan dan menyemburatkan harapan akan masa depan, terlebih terhadap solidnya kelompok mereka. Di peralihan tahun, mereka berjabat tangan dan menepuk bahu, “Selamat Tahun Baru Kawan!”

Membayangkan kota tak terlepas dari paradoks desa. Penyokong asupan lambung ini apakah juga ikut termeriahkan momen? Apakah masyarakat desa beranggapan bahwa hal itu patut untuk dimeriahkan? Tak ada yang tahu pasti kecuali mereka. Jika tangan boleh meraba, desa hanyalah komunitas kecil yang bergantung apa kata pemimpin. Jika di suatu daerah, kepala desa mempunyai sedikit wawasan kota, mereka akan membuat perayaan kecil-kecilan, entah itu berbentuk lanyar tancap, atau sukuran massal warga desa. Pemimpin yang menunjukkan kedesaannya mungkin emoh melakukan hal tersebut, “tidak ada yang perlu dirayakan,” begitu celotehnya.

***
Anak kecil tersekap di rumah mewahnya. Sama ibunya, ia diberi kamar di lantai dua seorang diri. Kamar yang mewah seukuran anak kecil berumur sembilan tahun. Dengan luas tujuh kali delapan dia bisa berlari sambil meneriakkan kemarahan kasih sayang kepada ibunya. Tidak ada barang mewah di dalamnya, cuma TV 21’, laptop 12’, lemari pakaian, kasur tanpa dipan, karpet dan dua buah rak buku besar berisi buku-buku yang belum saatnya dibaca anak seumuran dia. Ibunya memang sengaja menghadirkan buku-buku tersebut; tak tanggung-tanggung, aneka satwa filsafat dan novel-novel luar negeri mendominasi koleksinya. Jangan heran jika anak dan orang tua ini sering kali berdebat akan suatu hal.

Hingga saatnya tiba. Menghadapi libur panjang akhir tahun, keluarga Nihad merencanakan liburan yang berkelas karena kakak Nihad baru saja menyelesaikan studi S1 di Oxford. Semua anggota setuju untuk merayakan tahun baru di puncak Bogor. Ayah sudah mempersiapkan segala sesuatunya. Tak ada kendala. Tetapi di saat hari H, dua hari sebelum tanggal 1 Januari, Nihad senewen, enggan beranjak dari tempat tidurnya. “Pagi menyebalkan,” gumamnya.

“Nihad...,” teriak Ibu dari bawah. “Ayo sayang, sudah ditunggu ayah sama kakak, mereka sudah duduk di mobil.”

“Nihad nggak ikut, Ayah, Ibu sama kakak saja yang berangkat. Nihad malas.”

“Kenapa anak itu?” Ibu membatin, kemudian melangkahkan kakinya ke atas.

“Ada apa Nihad?” Ibu mengelus kening Nihad berulang kali. Nihad yang tiduran menampakkan wajah cemberutnya.

“Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Nihad hanya merasa tidak enak badan.” Nihad mencoba berbohong kepada ibu.

“Ada yang kamu sembunyikan, Ibu tahu dari gelagatmu yang mencurigakan. Katakan saja, bukankah kita semua tahu, tidak ada pembungkaman di rumah ini.”

Nihad melirik buku-bukunya, “semua gara-gara kalian. Kalian menghancurkan pola pikir anak kecil. Hati kecilku mengatakan untuk bersenang-senang bersama keluarga, sedangkan akalku berteriak lantang menolak sebuah kesenangan.”

“Nihad,” sedikit menghardik. “Ayo turun, kasihan kakak menunggu.

“Tidak, Nihad sendiri di rumah.”

“Bagaimana perasaan kakakmu yang menginginkan sebuah perayaan kedatangan dirinya sekaligus tahun baru tanpa kehadiran adik semata wayangnya?” Ibu mencoba memberi rasionalisasi.

“Merasa bersalahkah Ibu menunjukkan Nihad toko buku, kemudian menjelaskan tentang kualitas sebuah buku, Nihad pun tertarik, dan ibu merealisasikan semua keinginan Nihad?”

“Buku-buku itu bu, mereka yang menjadikan Nihad menolak kesenangan. Hidup yang tak terkatakan ini membohongi kita untuk berkata “ya”. Kita telah tertipu dengan bayang-bayang kenikmatan yang dibuat oleh pasar seolah-olah hal itu adalah kebutuhan.”

“Adanya Nihad di sini adalah ada tanpa sebuah kehendak dengan Nihad. Tidak ada kompromi antara ayah, ibu, Nihad dan Tuhan. Nihad hanyalah korban silang kuasa antara cinta ayah ibu yang diwujudkan Tuhan melalui Nihad. Tidak ada yang lebih dari Nihad. Sesungguhnya Nihad tidak menghendaki kehidupan, keterpaksaanlah yang menghayutkan Nihad.”

Ibu menitik sedikit air mata, kemudian mengusapnya dengan sapu tangan dan mencium kening Nihad. “Jika itu kemauanmu, biar ayah dan kakakmu saja yang pergi. Ibu akan menemanimu di rumah. Ibu yang mengandung dan melahirkanmu. Ibulah yang bertanggung jawab atasmu. Pilihanmu adalah konsekuensi Ibu.”

Akhirnya tidak ada yang spesial. Kehidupan berjalan sebagaimana mestinya. Mereka mengerti kegelisahan Nihad. Membiarkan Nihad menikmati dirinya sendiri menjadi pilihan terbaik, dan sebagai bentuk empati sebuah keluarga adalah menemani Nihad. Nihad tersenyum melihat keluarganya mengurungkan niat.

***
“Aku adalah bagian dari waktu. Jika aku memanjakan waktu maka aku akan terbuai dengan tingkah konyol. Kantong perjalanan yang aku emban selalu mengutitku di mana pun aku berada.”

“Tahun ini, kalender Masehi menamainya 2008. 2008 tak lama lagi terpasung oleh sejarah dan pemberian nama 2009 akan dilakukan. Kurang lebih enam jam lagi.” Nihad mencoba bedialog dengan waktu.

“Aku ingin kamu melihat keluar sana. Prosesi-prosesi disematkan untuk menyambutmu. Genangan uang dibelanjakan hanya untuk dirimu. Sedangkan kamu tetap terpukur bersamaku di sini mengutuki perlakuan mereka yang berlebihan. Tak hanya mereka, Ibuku juga membuat kue di bawah.”

“Sebenarnya, aku ragu terhadapmu. Apa yang kamu berikan kepada mereka, sehingga mereka begitu lapang mendermakan dayanya hanya untukmu. Padahal kamu terus menghajarnya. Kamu membuat manusia lapuk termakan dirimu.”

“Bukannya mempertanyakan wujudmu, malah suka cita yang terpampang. Apa yang kamu lakukan sampai mereka benar-benar tertipu?”

“Kamu memiliki dimensi lalu, kini dan depan menghardik mereka untuk selalu berintrospeksi dan menaruh harapan. Tetapi kamu menganggapnya remeh dan terus saja berjalan. Kamu tetap saja hinggap tanpa kompromi.”

Enam jam Nihad memikirkannya. “Dar...der...dor, suuutt... dor... seeet... dooor.” Bunga api bertebaran membasahi langit. Dari bawah terlihat manusia suka cita membahana dalam kumpulannya. Gempita teompet terdengar di mana-mana. Ucapan selamat tak hentinya keluar dari mulut ke mulut.

Nihad memandang dari tepi teras lantai dua. Bunga api yang meletup-letup ditatapnya seksama bersama waktu.

“Nihad..., turun! Makan kuenya.”

Senin, 05 Januari 2009

Singgasana Anjing

Kembali lagi mengitari pura, pejantan berlari mengejar betina; terlihat dari raut muka yang terkaca oleh nafsu. Betina meraung-raung, enggan menerima ajakan birahi. Mereka berkejaran mengelilingi pura. Sedangkan di dalam terpampang kehidupan damai dengan kekhidmatan persembahan manusia. Berbagai jenis ornamen yang terpahat di dinding dan dupa-dupa yang sengaja dialunkan di depan muka kemudian di tancapkan di panci sembahan dengan taburan debu menggenang di udara sore itu. Babi-babi mengeram pelan, menikmati kudapan lumpur yang membasahi sekujur tubuhnya. Pekikan halus terdengar sayup-sayup di telinga jemaat.

Sementara di luar, anjing milik pak Sentot, berkecipak dengan arus sungai kecil. Sembari mengangkat satu kaki, dari penisnya mengalir urine. Dengan wajah yang merasakan kelegaan ia geleng-gelengkan kepala. Hijau padi pun memandang heran. Kemudian ia berjalan kecil di tepian kebun manggis, memandang bergantian dua buah rumah Kepala Dusun Batu Rimba yang bersebelahan dengan pura dan masjid.

Pikiran Kili—pak Sentot memberinya nama demikian—melayang ke arah sosok Syafruddin: “Dia yang menguasai daerah ini. Aku kagum padanya. Tidak ada hegemoni kaum di dusun ini. Syafruddin mampu mempersandingkan Hindu dan Islam dalam satu meja yang akur, tanpa konflik sedikit pun.” Sebenarnya ia benci dengan Kepala Dusun itu. Sekian lama partisipasi anjing dalam mengamankan daerah dipandang sebelah mata olehnya. Perlakuan bak sampah diperlihatkannya kepada warga, warga pun mencontohnya; seakan-akan itulah perlakuan yang benar. Akan tetapi, tetap saja hebat. Manusia tidak bertengkar atas nama agama.

Seminggu yang lalu, Kili bertemu dengan anjing dari Jawa yang sedang diajak jalan-jalan tuannya. Mereka berjalan bersandingan dengan kekangan tali di leher anjing dan pegangan di tangan tuan. Keduanya tampak mesra.

Melihat kemesraan yang diperagakan mereka, tiba-tiba perasaan Kili mengiba: “Beruntung kamu hidup di sana. Jika kamu bersedia bertukar tepat, walaupun hanya sesaat, sekedar merasakan keadaan di daerahku, niscaya kamu akan merintih kesakitan; bukan tubuh melainkan rasa. Sedetik kamu melangkah, sekejap kamu rasakan perihnya bertautan.” Mata Kili menitikkan tangis sendu. Seperti mengerti kesedihan Kili, anjing itu—Polki, tuannya memberinya nama—menghampiri Kili. Tuannya melepas ikatannya, memang sehati mereka.

“Tidak ada yang salah dengan masyarakat anjing di sini. Aku melihat anjing-anjing berjalan lincah tanpa kekang. Seharusnya kalian bahagia. Kalian lebih beruntung daripada kami. Di sana kami hanya menjadi pemanis rumah indah yang berpagar, tanpa mampu bertegur sapa dengan sesama. Kalian,” dengan sedikit aksen haru ia menambahkan, “menemukan spesies kita, membuat masyarakat sendiri, tidak bergantung pada belas kasihan orang. Komuni besar tercipta di sini. Apa lagi yang kau risaukan. Hidup mandiri merupakan kebahagiaan tersendiri.”

“Ah, kamu saja yang kurang paham. Tidak seperti yang kamu bayangkan. Anjing tetap saja kalah dengan manusia. Asal kamu tahu saja, kami ini hanya sebagai alat pengaman bagi mereka. Walaupun kedamaian sudah terbentuk rapi di dusun ini, tetapi mata waspada tetap terpancar melalui kami. Kami memiliki pos masing-masing: di pematang sawah, rumah, pura, gudang, kandang ternak, dan bangunan potensial lainnya. Sesungguhnya tidak ada kedamaian, kami masih saja menaruh curiga terhadap gerak-gerik yang tidak biasa. Kami sering kali menggonggong keras-keras membangunkan mereka, kemudian berlari mengejar orang yang dicurigai itu. Warga pun memainkan pentungan dengan tatapan yang mengawang dari barat ke timur, kanan ke kiri, berusaha menerka lawan. Selebihnya kami hanya berjalan bermalas-malasan di sekitar kampung.”

“Itulah singgasana anjing. Andil yang kalian peragakan selama ini merupakan bangunan yang menegakkan siapa sesungguhnya anjing. Kehidupan menyaratkan akan adanya pola yang berdampingan. Anjing memiliki pola, begitu juga dengan manusia. Keunikan individu tersirat melalui pola-pola tersebut. Jangan menggerutu dengan eksistensi kalian yang demikian, karena menurutku, itulah jati diri anjing. Aku melihat singgasana anjing di sini.”

Ya, aku mengerti. Anjing harus memiliki kebebasan. Anjing tidak membudak. Bentuk jalinan kerja sama antara anjing dan manusia adalah sama-sama mengamankan kampung. Tidak ada perbudakan. Anjing harus mendirikan singgasana.

Kili menggonggong keras. Anjing-anjing mengerti bahwa Pak Bos memanggil mereka untuk memusyawarahkan sesuatu. Ada hal yang harus dibicarakan secepatnya. Mereka pun berjalan beriringan menuju lapangan. Terlihat aura kegagahan anjing ketika mereka berjalan berbondong-bondong ke lapangan. Warga yang melihatnya sedikit heran, “ada apa dengan anjing-anjing itu, mengapa mereka beramai-ramai, dari arah yang berlainan pula, berjalan, seperti ada urusan penting?

“Saudara-saudaraku yang saya cintai, sebelum saya mengutarakan hasrat saya untuk membangun peradaban kita, saya ingin bertanya kepada kalian. Pertama, apakah perlakuan yang ditunjukkan manusia kepada kalian adalah wajar dan sebagaimana adanya, tanpa siksaan dan hinaan? Kedua, apakah kalian mengharapkan kebebasan atau sudah puas dengan perbudakan? Ketiga, apa yang terbersit di hati kalian untuk menumbuhkan kebanggaan kita sebagai anjing?”

Warga anjing menapakkan wajah bloon. “Ada yang aneh dari Pak Bos, mengapa tiba-tiba dia berkata demikian?” Bisik-bisik anjing di sebelah utara. “Tidak usah kamu risaukan, mungkin ada kejadian yang membuatnya tercerahkan.

“Ghuk, ghuk...”

“Kamu Rena, coba katakan sesuatu.”

“Secara pribadi saya menginginkan kehidupan mandiri. Tidak lagi mengharapkan belas kasihan manusia, maupun mengais-ngais sampah manusia. Saya ingin berburu sendiri untuk mengenyahkan rasa lapar. Tetapi apakah itu bisa di tengah-tengah kehidupan yang berangsur-angsur mengarah modernisme ini. Di mana lahan kita berburu?”

Kili menjawab dengan kewibawaan seorang ketua: “Kegelisahanmu sama seperti saya. Hal ini bisa kita siasati dengan membuat perjanjian bilateral dengan manusia. Untuk menuju ke sana kita harus membuat singgasana anjing yang kuat. Kekuatan inilah yang membuat daya tawar kita tak lagi diremehkan oleh manusia.”

Kita adalah anjing yang memiliki kekuatan daya dengus yang kuat dalam mengejar maling. Keamanan dusun aman oleh kita. Inilah potensi kita. Tinggal bagaimana kita menyolidkan internal kita.

Jadi posisi kita dengan manusia adalah kolega, bukan lagi budak. Kita siap mengamankan dusun, asal jaminan kehidupan dari manusia telah kita pegang, dan manusia tidak bisa memerintah kita seenaknya tanpa kesepakatan lebih lanjut.

“Singgasana Anjing sudah saatnya berkibar tegak.” Kili berteriak lantang dihadapkan audiens. “Hidup Anjing.....!” Gonggongan anjing pun menggema.

***
Lombok, pulau kecil yang memiliki eksotisme pantai yang mencengangkan. Tradisi dan budaya yang berkembang diwarnai nuansa Bali yang cukup kental, walaupun Islam tetap dominan. Terang saja, 150 tahun Lombok dijajah Bali, hingga ada yang bilang: “Kamu bisa melihat Bali di Lombok, tetapi kamu tidak bisa melihat Lombok di Bali.”

Warga Lombok adalah manusia dan anjing. Guyonan tersebut ada karena populasi anjing adalah populasi yang cukup besar di tengah-tengah masyarakat. Seperti halnya di Bali. Wabah rabies pun mencekam warga. Dinas Kesehatan setempat sudah merancang program pembersihan anjing rabies dan memvaksinasi anjing yang belum mengidap.

Apa yang dicanangkan oleh Dinas Kesehatan mendapat tanggapan antusias dari warga. Warga sudah jenuh dengan anjing yang sakit-sakit—tidak lagi dibutuhkan untuk mengamankan daerah. Akan tetapi, ada beberapa warga yang sangat mencintai anjingnya enggan menyerahkan anjingnya untuk dimusnahkan dengan cara dibakar. Mereka berdalih, mereka adalah juga makhluk hidup yang harus mendapatkan kehidupan yang layak pula seperti manusia.

Program berlanjut. Pamflet-pamflet disebar sampai ke pelosok-pelosok desa. Sosialisasi dilakukan serentak. Tidak ada kendala berarti bagi Dinas Kesehatan dalam mengendalikan program tersebut. Anjing-anjing yang positif mengidap rabies dikumpulkan di tanah lapang yang sudah dimodifikasi dengan lubang seperti galian kubur. Mereka disuntik racun yang membuat regangnya nyawa, kemudian dibuang ke lubang tersebut. Setelah terkumpul puluhan anjing, bensin dituangkan, api pun disulut. Asap hitam melambung tinggi mewarnai langit biru. Abu-abu berserakan. Lubang ditutup dengan gundukan tanah.

***
Rena tergopoh-gopoh menghadap Kili. “Bos, di utara lembah, ada asap tebal membumbung di udara. Ada yang mengatakan itu adalah pemusnahan anjing. Saya segera menuju ke sana, ternyata benar. Saudara-saudara kita dibantai.”

“Bangsat, apa mau mereka? Segera kumpulkan saudara-saudara kita, tanpa ada yang terlewat satu pun.”

Semua berkumpul. “Kita telah kecolongan. Manusia dengan seenaknya membasmi saudara-saudara kita yang tinggal di utara lembah. Saya yakin kejadian itu akan meluas. Siapkah kalian menunjukkan taring kepada manusia, kita serang mereka....!”

Dengan semangat yang membara demi raibnya penjajah, dan tegaknya singgasana anjing. Ratusan anjing berlari kencang menuju lokasi kejadian. Mereka menyalak manusia yang masih menyuntik anjing dan membakarnya. Manusia kelagapan menghadapi serangan tersebut. Baku hantam akhirnya tak dapat terelakkan.