
Ghaza melepuh. Ribuan orang tunggang-langgang meneriaki kegetiran.. Ledakan beriringan dengan jerit tangis, silih berganti menapaki riuh. Tentara Israel dengan pongahnya menjilati bangunan dengan bom pembunuh massalnya. Dengan dalih membela diri dari serangan Hamas, Israel membombardir Ghaza tanpa memperhatikan penduduk sipil. Mereka mencoba menampakkan kegarangan. Rakyat Ghaza diembargo dengan sempurna, tak ayal kehidupan pun terasa menyempit. Kebutuhan pokok tak lagi mudah di dapat, bantuan luar negeri pun terhenti. Rakyat Ghaza yang cerdik membuat gorong-gorong yang menghubungkannya dengan wilayah di Mesir. Dari sinilah, perdagangan ilegal bawah tanah mereka lakukan. Keterpaksaan ia pertaruhkan dengan kegelapan dan kengerian lorong-lorong hitam, yang di atasnya berderu tembakan dan ledakan. Kemantapan di jalan yang benar adalah yang mendasari mereka untuk terus berbuat mempertahankan hidup.
Seolah telah menyandera Amerika Serikat dengan muka dua-nya, Israel memperoleh dukungan moral dan materi. Israel juga mencoba mengelabui mata dunia. Pos-pos penting di dunia telah mereka kuasai. Yahudi bertebaran sebagai juru lobi yang handal di agen-agen militer dan perekonomian dunia. Dunia mengutuk tidak penuh. Ketidaktegasan dari negara-negara yang berpengaruh membuat Israel melenggang seenaknya menginvasi Ghaza. Legitimasi dari Amerika Serikat adalah kartu trufnya.
***
“Ahmad, apa yang sedang kamu lakukan? Dari pagi hingga saat ini kamu menyisir reruntuhan rumah-rumah penduduk dengan diam dan tak sedikit pun mempedulikan lingkungan. Kamu tampak asyik dengan pekerjaan barumu itu. Tidak adakah hal yang lebih penting yang pantas untuk kamu lakukan; keganasan mereka telah memporak-porandakan negeri kita, banyak saudara kita yang membutuhkan pertolongan.” Tidak ada perubahan aksen pada diri Ahmad. “Ahmad!” Teriak geram seorang kawan yang sedari tadi memperhatikan perubahan pada diri Ahmad. Walaupun pada akhirnya ia memaklumi Ahmad karena kini Ahmad hanya sebatang kara—semua keluarganya tewas di senja yang tenang, ia tetap saja kecewa. Di atas penderitaan orang lain, Ahmad terpaku diam, hanya mengumpulkan selongsong bom.
Ketenangan Ahmad yang diakibatkan oleh rasa pesimis memapaki kehidupan selanjutnya terasa mencekam jika ada orang yang mencoba mengusiknya. Matanya terus tertuju pada bekas-bekas ledakan di tanah Ghaza. Tidak ada yang tahu pasti untuk apa ia melakukan hal itu. Di pundaknya ada karung yang berisi beberapa selongsong bom. Ia tak segan-segan mengais timbunan bangunan yang telah lapuk. Debu yang menempel di sekujur tubuhnya hirau dengan sendirinya. Peluh pun mengental dan lamat-lamat mencair oleh semangat yang terpendam. Kegetiran tertanam di hatinya; ada yang ia tunjukkan pada dunia, sehingga dunia tak lagi menyipitkan mata kepada bangsanya.
“Sebetulnya apa yang hendak kamu capai? Tidak ada yang menggembirakan. Semua runtuh. Harapan kecil yang mereka desuskan tidak lebih dari bualan manis penyumbat mulut kita.” Haidar menghampiri Ahmad sembari membatunya mengambil serpihan dan selongsong bom. Ia berusaha berempati kepada Ahmad, mencari tahu apa yang hendak Ahmad kerjakan. Ia merasa ada yang disembunyikan.
Seolah-olah mengerti maksud Haidar, akhirnya Ahmad berbicara setelah karungnya hampir dipenuhi selongsong bom. “Tidak ada yang terlalu istimewa. Aku hanya mengumpulkan selongsong bekas bom. Lihat, aku sudah dapat banyak.” Ahmad membuka karungnya dan menunjukkannya kepada Haidar. “Kamu ingin membantuku mewujudkan sesuatu? Ya, sesuatu yang mencengangkan, membuat semua manusia merintih, menitikkan air mata dan mengingat sebuah kejadian penting.”
“Untuk sekarang, lebih baik dirimu membantu menyelamatkan korban, membantu mengobati, atau ikut berjuang. Bukannya membuat hal yang belum jelas.”
“Ah, kamu tidak mengerti. Aku memang terpukul dengan kepergian semua anggota keluargaku. Tapi apakah hanya dengan berusaha mengevakuasi mayat kemudian menguburnya, semua terbalaskan dan itu cukup sebagai wujud baktiku kepada mereka? Itu akan berakhir ketika gundukan tanah terakhir disematkan. Orang-orang akan menganggapnya angin lalu karena banyaknya korban yang berjatuhan. Memang, ketika peperangan ini selesai akan dianggap sebagai salah satu bentuk kekejian manusia, tetapi itu seperti ubahnya anak kecil yang lewat di depan kerumunan ibu-ibu yang nongkrong di pinggir jalan, permisi tanpa menundukkan badan dan kepalanya; akan begitu mudah manusia melupakan kejadian ini. Peperangan ini berganti dengan isu yang lebih aktual. Mereka tanpa rasa bersalah melupakan dosa. Keturunan mereka dengan entengnya mengelak dari tanggung jawab.”
“Ada yang terlupakan. Skala prioritas luput dari perhatianmu. Bukankah kebutuhan yang mendesak untuk saat ini adalah membantu para korban, meskipun aku tidak terlalu tahu wujud konkret apa yang ingin kamu ciptakan? Mereka membutuhkanmu, Ahmad. Rakyat Ghaza membutuhkan pemuda dengan segenap dayanya. Anak-anak dan perempuan meraung kesakitan, sedangkan dirimu enak-enakan saja di atas puing-puing bangunan. Mengitari ledakan-ledakan dan mengais-ngais reruntuhan.”
“Bodoh kamu Haidar. Kalau itu yang kamu pentingkan, silahkan kamu ke Rumah Sakit merawat saudara-saudaramu. Hiraukan saya di sini.” Tak sedikit pun mata Ahmad memandang Haidar. Tatapannya terpaku ke bawah. Tongkat besi yang ujungnya seperti sabit ia gunakan untuk mengais selongsong bom. Ketika ada suara besi yang berbenturan, ia menunduk dan meraba-raba benda tersebut. Apabila benar itu selongsong bom, ia memasukkannya ke dalam karung yang ia panggul.
Ahmad berjalan menjauh, menuju tempat persembunyian yang dirasa cukup aman untuk menaruh selongsong bom yang berhasil ia dapatkan. Di dekat reruntuhan bangunan itu terdapat tanah lapang. Daerah itu telah ditinggalkan banyak orang, luput dari pantauan militer. Puluhan selongsong bom yang telah terkumpul, ia tutupi dengan kain lebar bekas pembatas ruang pengajian wanita dan pria di Masjid. Ia cukup kecewa dengan tanggapan sinis dari Haidar, terpaksa ia sendirian berusaha mewujudkan angan-angannya.
Tetapi Haidar mengejarnya. “Tunggu!” Ahmad menoleh kecut; “apalagi yang ingin kamu ributkan. Pergi sana bersama orang-orang lemah itu.”
“Jelaskan sekali lagi! Aku ingin mendengarnya lebih jelas. Aku paham dengan maksudmu.”
“Baguslah kalau begitu.” Ahmad mendekat..
“Kamu tahu siapa bapak monoteisme?”
“Ibrahim.”
“Ya, Ibrahim. Dia pasti menangisi kebengisan anak cucunya. Yahudi lahir dari anaknya Ishaq, sedangkan cikal bakal Islam berasal dari keturunan Ismail. Seharusnya mereka bersaudara. Akan tetapi, mereka bermusuhan, terlepas dari siapa yang salah dan yang benar. Lubuk hatinya pasti merintih melihat peperangan ini.”
“Serangan yang dilancarkan oleh Israel merupakan bukti ketamakan mereka karena telah sekian lama mereka tersisih dari tanah yang dijanjikan. Tanah Palestina adalah tanah suci dari ketiga agama semit: Islam, Kristen dan Yahudi. Tanah suci memang rawan konflik. Setelah perang dunia ke dua. Inggris sebagai penjajah Palestina memberikan sedikit tanah—sebut saja tanah perdikan—karena iba dengan pembantaian yang telah dilakukan oleh Hitler. Merasa diberi hak, Yahudi semena-mena, dengan lahirnya Negara Israel, mereka memperluas wilayahnya dengan jalan pemaksaan. Mereka mengibarkan peperangan.”
“Sebagai anak keturunan bangsa Palestina, yang berhak sepenuhnya atas tanah ini, aku tidak terima dengan perlakuan tersebut. Hatiku berontak. Tetapi aku berusaha memahami diriku; apa yang bisa aku perbuat? Hanya menangisi kepergian keluarga adalah perbuat melankolis yang tak pantas dilakukan oleh seorang pemuda, pergi berperang, kemampuan belum terlatih. Aku ingin membuat tugu...,” suara Ahmad menggantung.
“Tugu?”
“Ya, tugu. Aku merasa mampu mengerjakan sesuatu yang fenomenal dengan membuat tugu. Aku ingin anak cucu Yahudi menyadari bahwa apa yang telah dilakukan nenek moyang mereka adalah keji dan busuk, supaya mereka selalu dibayang-bayangi perasaan bersalah, hingga berubah menampakkan wajah yang rendah hati. Manusia akan selalu terusik dengan kehadiran tugu tersebut. Manusia membutuhkan alat pengingat kesadaran. Tugu itulah yang akan membuat kesadaran manusia menjadi jernih melihat kebenaran. Manusia akan lebih memahami apa itu keadilan. Dengan selongsong bom yang telah aku kumpulkan ini, aku akan membuat tugu yang berbentuk dua manusia yang mati terkena ledakan bom.”
“Bantu aku mengumpulkan selongsong bom lebih banyak lagi, Haidar!” Ahmad memegang pundak Haidar dan sedikit mengguncangnya. Haidar pun mengangguk diam.
***
Seminggu berlalu, atas desakan dunia akhirnya Israel dan Hamas melakukan gencatan senjata, kemudian Israel menarik pasukannya. Akan tetapi, buih-buih permusuhan masih lekat dan tetap berlangsung.
Ahmad dan Haidar yang secara sembunyi-sembunyi mengerjakan pembuatan tugu, terus melanjutkan pekerjaannya walaupun beberapa kecurigaan mulai mencium.
Tak lama kemudian, tugu itu selesai dibuat bersamaan dengan sebuah ledakan bom yang menewaskan Ahmad dan Haidar.