Detik-detik itu berjalan dengan tempo pasti, menuju kehadiran baru. Banyak orang menunggu kedatangannya. Berbagai macam prosesi dipersiapkan untuk menyambutnya. Sang waktu mungkin akan tersenyum melihat penyambutan yang bakal meriah itu; manusia memang aneh, kenapa hanya demi hadirnya sesuatu yang menggerusnya dirayakan dengan sepenuh hati. Tidak takutkah ia terhadap ajal yang terus mengintai. Atau waktu merasa tersanjung dengan perlakuan tersebut?
Anjungan wisata di lereng-lereng gunung dijadikan tempat ideal bagi keluarga dengan vila-vila pelbagai kelas. Selain keluarga, vila juga cocok untuk sepasang kekasih resmi maupun belum, seolah-olah dunia adalah milik mereka berdua bersama hadirnya cinta. Penggiat bisnis membaca gelagat ini, pernak-pernik pun dipahat sedemikian rapi di tempat-tempat strategis, tak lebih dari pemikat. Harga sewa didiskon, berusaha memberi hawa persaingan di antara mereka. Tampak sekilas di media, jalanan dirayapi kendaraan roda empat dari arah utara ke selatan; menunjukkan fenomena keletihan kota, manusia kota rindu keasrian bumi dan menanggalkan sejenak kepenatan. Mereka memanfaatkan momen di sejuknya hawa.
Ada yang malas bepergian jauh, mereka hanya berencana di pucuk keramaian kota dengan pertunjukan musik dan diakhiri dengan letupan kembang api di titik 00.00. Berjuta pasang mata terbius, hatinya berdebam melihat percik-percik api yang membuhul di langit hitam: “Inilah kemeriahan itu, semoga tahun ini adalah tahun kemeriahan seperti keindahan yang terpancar dari bunga api.” Kehidupan kota mencoba memeriahkan suasana.
Sebelum puncak perayaan itu digelar, di pusat-pusat transaksi ekonomi dipenuhi tawaran jasa dan barang berselimut aksen tahun baru. Barang-barang yang mengidentikkan tahun baru diperdagangkan secara modern maupun konvensional. Toko-toko maupun pedagang emperan trotoar dadakan menyediakan terompet dan topi ala tahun baru.
Kelompok-kelompok kecil masyarakat yang mengaku dirinya paham akan pentingnya sahabat intelektual dan enggan menikmati kemeriahan komunal bersembunyi di titik-titik konsentrasi yang mereka tentukan sendri dengan kemeriahan yang coba dihadirkan sendiri pula; bakar-bakar jagung, ayam, atau mungkin bebek. Semua berusaha mengalokasikan tawanya bersama kawan-kawan terdekat mereka, sembari melalukan introspeksi kecil-kecilan dan menyemburatkan harapan akan masa depan, terlebih terhadap solidnya kelompok mereka. Di peralihan tahun, mereka berjabat tangan dan menepuk bahu, “Selamat Tahun Baru Kawan!”
Membayangkan kota tak terlepas dari paradoks desa. Penyokong asupan lambung ini apakah juga ikut termeriahkan momen? Apakah masyarakat desa beranggapan bahwa hal itu patut untuk dimeriahkan? Tak ada yang tahu pasti kecuali mereka. Jika tangan boleh meraba, desa hanyalah komunitas kecil yang bergantung apa kata pemimpin. Jika di suatu daerah, kepala desa mempunyai sedikit wawasan kota, mereka akan membuat perayaan kecil-kecilan, entah itu berbentuk lanyar tancap, atau sukuran massal warga desa. Pemimpin yang menunjukkan kedesaannya mungkin emoh melakukan hal tersebut, “tidak ada yang perlu dirayakan,” begitu celotehnya.
***
Anak kecil tersekap di rumah mewahnya. Sama ibunya, ia diberi kamar di lantai dua seorang diri. Kamar yang mewah seukuran anak kecil berumur sembilan tahun. Dengan luas tujuh kali delapan dia bisa berlari sambil meneriakkan kemarahan kasih sayang kepada ibunya. Tidak ada barang mewah di dalamnya, cuma TV 21’, laptop 12’, lemari pakaian, kasur tanpa dipan, karpet dan dua buah rak buku besar berisi buku-buku yang belum saatnya dibaca anak seumuran dia. Ibunya memang sengaja menghadirkan buku-buku tersebut; tak tanggung-tanggung, aneka satwa filsafat dan novel-novel luar negeri mendominasi koleksinya. Jangan heran jika anak dan orang tua ini sering kali berdebat akan suatu hal.
Hingga saatnya tiba. Menghadapi libur panjang akhir tahun, keluarga Nihad merencanakan liburan yang berkelas karena kakak Nihad baru saja menyelesaikan studi S1 di Oxford. Semua anggota setuju untuk merayakan tahun baru di puncak Bogor. Ayah sudah mempersiapkan segala sesuatunya. Tak ada kendala. Tetapi di saat hari H, dua hari sebelum tanggal 1 Januari, Nihad senewen, enggan beranjak dari tempat tidurnya. “Pagi menyebalkan,” gumamnya.
“Nihad...,” teriak Ibu dari bawah. “Ayo sayang, sudah ditunggu ayah sama kakak, mereka sudah duduk di mobil.”
“Nihad nggak ikut, Ayah, Ibu sama kakak saja yang berangkat. Nihad malas.”
“Kenapa anak itu?” Ibu membatin, kemudian melangkahkan kakinya ke atas.
“Ada apa Nihad?” Ibu mengelus kening Nihad berulang kali. Nihad yang tiduran menampakkan wajah cemberutnya.
“Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Nihad hanya merasa tidak enak badan.” Nihad mencoba berbohong kepada ibu.
“Ada yang kamu sembunyikan, Ibu tahu dari gelagatmu yang mencurigakan. Katakan saja, bukankah kita semua tahu, tidak ada pembungkaman di rumah ini.”
Nihad melirik buku-bukunya, “semua gara-gara kalian. Kalian menghancurkan pola pikir anak kecil. Hati kecilku mengatakan untuk bersenang-senang bersama keluarga, sedangkan akalku berteriak lantang menolak sebuah kesenangan.”
“Nihad,” sedikit menghardik. “Ayo turun, kasihan kakak menunggu.
“Tidak, Nihad sendiri di rumah.”
“Bagaimana perasaan kakakmu yang menginginkan sebuah perayaan kedatangan dirinya sekaligus tahun baru tanpa kehadiran adik semata wayangnya?” Ibu mencoba memberi rasionalisasi.
“Merasa bersalahkah Ibu menunjukkan Nihad toko buku, kemudian menjelaskan tentang kualitas sebuah buku, Nihad pun tertarik, dan ibu merealisasikan semua keinginan Nihad?”
“Buku-buku itu bu, mereka yang menjadikan Nihad menolak kesenangan. Hidup yang tak terkatakan ini membohongi kita untuk berkata “ya”. Kita telah tertipu dengan bayang-bayang kenikmatan yang dibuat oleh pasar seolah-olah hal itu adalah kebutuhan.”
“Adanya Nihad di sini adalah ada tanpa sebuah kehendak dengan Nihad. Tidak ada kompromi antara ayah, ibu, Nihad dan Tuhan. Nihad hanyalah korban silang kuasa antara cinta ayah ibu yang diwujudkan Tuhan melalui Nihad. Tidak ada yang lebih dari Nihad. Sesungguhnya Nihad tidak menghendaki kehidupan, keterpaksaanlah yang menghayutkan Nihad.”
Ibu menitik sedikit air mata, kemudian mengusapnya dengan sapu tangan dan mencium kening Nihad. “Jika itu kemauanmu, biar ayah dan kakakmu saja yang pergi. Ibu akan menemanimu di rumah. Ibu yang mengandung dan melahirkanmu. Ibulah yang bertanggung jawab atasmu. Pilihanmu adalah konsekuensi Ibu.”
Akhirnya tidak ada yang spesial. Kehidupan berjalan sebagaimana mestinya. Mereka mengerti kegelisahan Nihad. Membiarkan Nihad menikmati dirinya sendiri menjadi pilihan terbaik, dan sebagai bentuk empati sebuah keluarga adalah menemani Nihad. Nihad tersenyum melihat keluarganya mengurungkan niat.
***
“Aku adalah bagian dari waktu. Jika aku memanjakan waktu maka aku akan terbuai dengan tingkah konyol. Kantong perjalanan yang aku emban selalu mengutitku di mana pun aku berada.”
“Tahun ini, kalender Masehi menamainya 2008. 2008 tak lama lagi terpasung oleh sejarah dan pemberian nama 2009 akan dilakukan. Kurang lebih enam jam lagi.” Nihad mencoba bedialog dengan waktu.
“Aku ingin kamu melihat keluar sana. Prosesi-prosesi disematkan untuk menyambutmu. Genangan uang dibelanjakan hanya untuk dirimu. Sedangkan kamu tetap terpukur bersamaku di sini mengutuki perlakuan mereka yang berlebihan. Tak hanya mereka, Ibuku juga membuat kue di bawah.”
“Sebenarnya, aku ragu terhadapmu. Apa yang kamu berikan kepada mereka, sehingga mereka begitu lapang mendermakan dayanya hanya untukmu. Padahal kamu terus menghajarnya. Kamu membuat manusia lapuk termakan dirimu.”
“Bukannya mempertanyakan wujudmu, malah suka cita yang terpampang. Apa yang kamu lakukan sampai mereka benar-benar tertipu?”
“Kamu memiliki dimensi lalu, kini dan depan menghardik mereka untuk selalu berintrospeksi dan menaruh harapan. Tetapi kamu menganggapnya remeh dan terus saja berjalan. Kamu tetap saja hinggap tanpa kompromi.”
Enam jam Nihad memikirkannya. “Dar...der...dor, suuutt... dor... seeet... dooor.” Bunga api bertebaran membasahi langit. Dari bawah terlihat manusia suka cita membahana dalam kumpulannya. Gempita teompet terdengar di mana-mana. Ucapan selamat tak hentinya keluar dari mulut ke mulut.
Nihad memandang dari tepi teras lantai dua. Bunga api yang meletup-letup ditatapnya seksama bersama waktu.
“Nihad..., turun! Makan kuenya.”
Minggu, 11 Januari 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar