Sabtu, 17 Januari 2009

Aku di Kamar

Aku di Kamar

“Jika kamu memang berharap terhadap larinya kemuakan yang lagi-lagi melekat, meretaslah dari naungan asa yang menipumu kemarin sore. Tidur dan buailah tubuhmu, biarkan energimu melemah demi kekuatan yang akan muncul. Enigma takut melihatmu berubah, tunggang-langgang terkebiri. Gelombang yang membentuk simultan terus menerus menampakkan dirinya ke dalam partikel. Genggam erat!”

“Gemuruh padri menyelimuti doktrin, mengikat akal supaya mengerut dengan pelbagai tipuan-tipuan yang diinginkan setiap nafsu yang bergelora. Akal melemah jika nafsu menguat. Keengganan untuk melahirkan sesuatu, seakan tersumbat seperti kran di dapur rumahmu yang dijejali sisa-sisa makanan. Lihat saja penismu!”

Aku getir melihat wajahku. Cermin memarahiku mati-matian.

Ketiakku memburu kejam, menuntut keharuman ada pada dirinya. Ia tak mau tunduk kepada hukum alam. Padahal kamu tahu sendiri, jendela kamarku tak lagi membahana dengan sinar gurindam, pantulannya pun redup dimakan bayangan. Selaksa perih menerkam jika getah yang meluap itu mengejek di pojok selatan bersama buku-buku yang berserakan akibat ulahku semalam. Aku kehabisan daya yang menawarkan pencerahan.

Aku terpaku di bawah garis merah. Garis merah itu selalu menyalahkanku jika aku keliru menyusun kata-kata. Marahnya melebihi marahnya tuan kepada budaknya. Subuh yang masih pekat menggigil merambahi kening untuk mengerut sebagai tanda kesadaran terhadap kebenaran. Udara menari-nari membawa kesejukan di saat satu kebenaran tertangkap dan dapat memantulkan kebenaran yang lain dengan menghapus satu kesalahan. Garis merah mendekat, meneriakkan kata maaf tepat di samping telingaku.

Pukul 08.30, selalu saja, jarum kecil tertahan di persimpangan angka 8 dan 9, sedangkan jarum panjang membujur tepat di angka 6. Aku terpikat untuk menenangkan diri karena di waktu itulah aku kelabakan menentukan aktivitas. Selalu saja, kaki ini membawa sekujur tubuh berjalan ke utara dan selatan, bolak-balik menekur keheningan yang kian memudar. Kebimbangan menyeret kelopak mata ketika penglihatan mulai bening dengan satu pandangan lurus. Itu terjadi hampir setiap hari di depan kamar peninggalan cewek manis, yang di kemudian hari aku tahu bahwa dia meninggalkan kamar itu karena tiga bulan menunggak uang kos.

Pagi merambat siang, rambatan yang sering kali terasa lama. Meja tergetar oleh alunan musik yang keluar dari mulut loud speaker, dengan komputer sebagai pengendali. Buku meminta kembali untuk dipinang. Jejalan huruf yang terasa menyesakkan dada menggoda untuk segera mencumbunya. Aku merebah. Kunikmati dua tumpukan bantal. Di ketinggian memudahkanku untuk membaca. Ya, kini aku membaca sambil tidur-tiduran, posisi yang sangat aku gemari. Bagai merapal mantra, aku mengeja setiap balutan yang ada pada rangkaian bab per bab dari buku itu.

Tak semudah yang aku bayangkan, lamunanku menggelitik untuk melupakannya. Ia membuaiku dengan kesuksesan-kesuksesan semu. Sebut saja, di situ saya dikatakan sebagai orang hebat; memiliki rumah mewah seharga jutaan dolar Amerika, tiga buah mobil keluaran terbaru, istri cantik—yang jika malam tiba sarung memanggilku untuk cepat-cepat mengenakannya, anak-anak yang lucu dan menggemaskan. Lamunan mencekik pemahaman.
***
Aku tinggal di lantai dua sebagai penghuni tunggal, selain penghuni bayangan. Enam kamar yang terdapat di lantai dua, hanya satu yang terisi manusia, di kamar yang menghadap persis ke tangga. Tetanggaku adalah mbah Jenggot, sosok gagah dengan kumis abu-abu dan lihyah—sebutan jenggot untuk mbah Jenggot—sepanjang 30 cm berwarna hitam yang mulai memutih. Ia tidak suka jika orang menyebut jenggot dengan sebutan jenggot, walaupun ia minta dipanggil dengan nama mbah Jenggot. Ia meminta orang-orang jika bertanya tentang jenggotnya dengan menyebutnya lihyah. “Ini sebagai penghormatan kepada guru saya bro. Beliau ketika mengajar sering sekali memegang dan mengusek-usek jenggotnya dan berkata, “lihyah...lihyah.., haadzihi lihyah..”, baru setelah itu ia menerangkan ihwal ulumut tafsir.”

Berteman dengan mbah Jenggot membuatku berjiwa besar, pembawaannya yang supel dan terkadang misterius memberi kesan bahwa ia memang benar-benar memiliki kapasitas sebagai punggawa. Di dalam tidurku ia memberi pelajaran-pelajaran hidup, ia masuk melalui mimpi. Ia tidak menerangkan secara eksplisit, aku disuruh mengejar arti sendiri. Ia menjejalkan pelbagai kisah, kegetiran di malam ini, keesokan berganti harapan, lusa manisnya sebuah pencapaian. Kisah yang dihadirkan pun menempati posisi tertentu di dalam kenyataan. Bahkan pernah mbah Jenggot menghakimiku sepihak karena aku melakukan kesalahan yang menurutnya fatal. Ketika saya meminta rasionalisasi, ia malah menamparku keras dan menghimpitkan sesuatu di dadaku hingga untuk bernapas aku harus berjuang sekuat tenaga.

Mbah Jenggot tinggal di kamar sebelah, di dekat jendela luar. Angin semilir yang tersibak menerbangkan jenggot mbah Jenggot. Suasana seperti itu yang membuat mbah Jenggot bahagia. Setiap sore ia membuka jendela, kemudian duduk di depan meja, ia belajar. “Inilah suasana yang damai untuk belajar bro, lihat ribuan kitab itu, ribuan kali aku membacanya ketika udara membelah sore. Hati tenang membuat konsentrasi tak terpecah.” Tips yang selalu diajarkan mbah Jenggot setiap kali aku mengeluh karena kesulitan belajar.

Hari yang mengesalkan baginya adalah hari Minggu. Tidak ada waktu belajar baginya. Di hari itu, cewek berumur sekitar tiga puluhan merapikan pakaian-pakaian pasca cuci. Gunungan pakaian lamat-lamat tersusun rapi dari pagi sampai sore. Mbah Jenggot merasa gerah ketika panas setrika mulai meluncur di pakaian. Ia juga geli melihat tingkah pola mbak itu ketika bekerja. Bokong seksinya mondar-mandir di depan mata mbah Jenggot.. Sedangkan bagiku, hari itu merupakan berkah. Selain pakaianku yang sebentar lagi akan tertata rapi, mbah Jenggot yang tak kuasa menahan gejolak mengungsi di kamarku. Dan di situ aku banyak berdiskusi dengannya.

Sementara itu, penghuni lainnya selalu membakar hatiku untuk selalu berbuat jahat dan bertingkah konyol. Mengeroyok hatiku untuk segera hengkang dari lantai dua. Mereka terusik dengan kehadiranku karena dengan kehadiranku, pemilik rumah berusaha mengusir mereka. Ada-ada saja polah mereka. Pernah aku dibikin kalut. Pikiran kosongku mereka masuki secara serampangan; menawarkan dahsyatnya kesenangan tertentu. Ribuan kilogram emas mereka tawarkan: “Ini bisa untuk membeli rumah sendiri, jangan kau ganggu kami dengan kehadiranmu.” Tetap saja aku bingung, apakah emas itu bisa dirupiahkan. “Emas kita berbeda, mana mungkin saya membelanjakan emasmu.” Aku menjawab dengan sedikit kesal. Berpikirnya masih cekak.

Sampai akhirnya, kehidupan terus berlalu. Aku hidup mesra bersama mbah Jenggot dan berselisih dengan penghuni lainnya; dan aku sendiri.
***
Pagi itu, makna bersendawa menghina cerobong naluriku:

“Dasar anak kecil, masih saja memandang fragma kehidupan di luar esensi. Meremas jangkar dengan mencampakkan bentuk. Tak tahu diri, kamu umbar kemaluan di hadapan susunan kata-kata. Bantuan mereka malah kamu seret menjauh. Mau jadi apa kamu?”

“Apa pula yang menghardikmu untuk mengecil, hingga mengeras sejenak pun enggan. Lembek sekali sikap yang kamu tunjukkan, hanya di abu-abu tembok yang mengelilingimu, kamu mengumpat tak tahu diri.”

Lagi-lagi cermin memandang bening. Aku menghampirinya, sekejap ada bayang-bayang monyet yang menggelitik benakku. Dia tertawa sembari menggeleng-gelengkan kepala seraya menggaruk sesekali. Tampak tolol dibuatnya. Terus saja menampakkan kepolosannya dalam meratapi kedunguannya. Ya, monyet diriku.

Tiba-tiba ke empat sisi dinding maju dan saling mengimpitku. Aku mengecil. Tersedak oleh kesempitan, aku berteriak: “pergi, aku tak butuh kalian. Sudah bosan aku dengan penipu macam kalian.”

Aku bergidik kedinginan. Pipi keringku basah dengan alir air mata. Selimut tebal tak mampu menyembuhkan. Minyak kayu putih tak ubahnya penghangat biasa. Kaos kaki hanyalah penghalang masuknya angin. Kasur sebatas perebah tubuh. Bantal adalah penyangga kepala. Aku tidur kesakitan di kamar. Sendiri.

Yogyakarta, 17 Januari 2009

Tidak ada komentar:

Posting Komentar