Senin, 05 Januari 2009

Singgasana Anjing

Kembali lagi mengitari pura, pejantan berlari mengejar betina; terlihat dari raut muka yang terkaca oleh nafsu. Betina meraung-raung, enggan menerima ajakan birahi. Mereka berkejaran mengelilingi pura. Sedangkan di dalam terpampang kehidupan damai dengan kekhidmatan persembahan manusia. Berbagai jenis ornamen yang terpahat di dinding dan dupa-dupa yang sengaja dialunkan di depan muka kemudian di tancapkan di panci sembahan dengan taburan debu menggenang di udara sore itu. Babi-babi mengeram pelan, menikmati kudapan lumpur yang membasahi sekujur tubuhnya. Pekikan halus terdengar sayup-sayup di telinga jemaat.

Sementara di luar, anjing milik pak Sentot, berkecipak dengan arus sungai kecil. Sembari mengangkat satu kaki, dari penisnya mengalir urine. Dengan wajah yang merasakan kelegaan ia geleng-gelengkan kepala. Hijau padi pun memandang heran. Kemudian ia berjalan kecil di tepian kebun manggis, memandang bergantian dua buah rumah Kepala Dusun Batu Rimba yang bersebelahan dengan pura dan masjid.

Pikiran Kili—pak Sentot memberinya nama demikian—melayang ke arah sosok Syafruddin: “Dia yang menguasai daerah ini. Aku kagum padanya. Tidak ada hegemoni kaum di dusun ini. Syafruddin mampu mempersandingkan Hindu dan Islam dalam satu meja yang akur, tanpa konflik sedikit pun.” Sebenarnya ia benci dengan Kepala Dusun itu. Sekian lama partisipasi anjing dalam mengamankan daerah dipandang sebelah mata olehnya. Perlakuan bak sampah diperlihatkannya kepada warga, warga pun mencontohnya; seakan-akan itulah perlakuan yang benar. Akan tetapi, tetap saja hebat. Manusia tidak bertengkar atas nama agama.

Seminggu yang lalu, Kili bertemu dengan anjing dari Jawa yang sedang diajak jalan-jalan tuannya. Mereka berjalan bersandingan dengan kekangan tali di leher anjing dan pegangan di tangan tuan. Keduanya tampak mesra.

Melihat kemesraan yang diperagakan mereka, tiba-tiba perasaan Kili mengiba: “Beruntung kamu hidup di sana. Jika kamu bersedia bertukar tepat, walaupun hanya sesaat, sekedar merasakan keadaan di daerahku, niscaya kamu akan merintih kesakitan; bukan tubuh melainkan rasa. Sedetik kamu melangkah, sekejap kamu rasakan perihnya bertautan.” Mata Kili menitikkan tangis sendu. Seperti mengerti kesedihan Kili, anjing itu—Polki, tuannya memberinya nama—menghampiri Kili. Tuannya melepas ikatannya, memang sehati mereka.

“Tidak ada yang salah dengan masyarakat anjing di sini. Aku melihat anjing-anjing berjalan lincah tanpa kekang. Seharusnya kalian bahagia. Kalian lebih beruntung daripada kami. Di sana kami hanya menjadi pemanis rumah indah yang berpagar, tanpa mampu bertegur sapa dengan sesama. Kalian,” dengan sedikit aksen haru ia menambahkan, “menemukan spesies kita, membuat masyarakat sendiri, tidak bergantung pada belas kasihan orang. Komuni besar tercipta di sini. Apa lagi yang kau risaukan. Hidup mandiri merupakan kebahagiaan tersendiri.”

“Ah, kamu saja yang kurang paham. Tidak seperti yang kamu bayangkan. Anjing tetap saja kalah dengan manusia. Asal kamu tahu saja, kami ini hanya sebagai alat pengaman bagi mereka. Walaupun kedamaian sudah terbentuk rapi di dusun ini, tetapi mata waspada tetap terpancar melalui kami. Kami memiliki pos masing-masing: di pematang sawah, rumah, pura, gudang, kandang ternak, dan bangunan potensial lainnya. Sesungguhnya tidak ada kedamaian, kami masih saja menaruh curiga terhadap gerak-gerik yang tidak biasa. Kami sering kali menggonggong keras-keras membangunkan mereka, kemudian berlari mengejar orang yang dicurigai itu. Warga pun memainkan pentungan dengan tatapan yang mengawang dari barat ke timur, kanan ke kiri, berusaha menerka lawan. Selebihnya kami hanya berjalan bermalas-malasan di sekitar kampung.”

“Itulah singgasana anjing. Andil yang kalian peragakan selama ini merupakan bangunan yang menegakkan siapa sesungguhnya anjing. Kehidupan menyaratkan akan adanya pola yang berdampingan. Anjing memiliki pola, begitu juga dengan manusia. Keunikan individu tersirat melalui pola-pola tersebut. Jangan menggerutu dengan eksistensi kalian yang demikian, karena menurutku, itulah jati diri anjing. Aku melihat singgasana anjing di sini.”

Ya, aku mengerti. Anjing harus memiliki kebebasan. Anjing tidak membudak. Bentuk jalinan kerja sama antara anjing dan manusia adalah sama-sama mengamankan kampung. Tidak ada perbudakan. Anjing harus mendirikan singgasana.

Kili menggonggong keras. Anjing-anjing mengerti bahwa Pak Bos memanggil mereka untuk memusyawarahkan sesuatu. Ada hal yang harus dibicarakan secepatnya. Mereka pun berjalan beriringan menuju lapangan. Terlihat aura kegagahan anjing ketika mereka berjalan berbondong-bondong ke lapangan. Warga yang melihatnya sedikit heran, “ada apa dengan anjing-anjing itu, mengapa mereka beramai-ramai, dari arah yang berlainan pula, berjalan, seperti ada urusan penting?

“Saudara-saudaraku yang saya cintai, sebelum saya mengutarakan hasrat saya untuk membangun peradaban kita, saya ingin bertanya kepada kalian. Pertama, apakah perlakuan yang ditunjukkan manusia kepada kalian adalah wajar dan sebagaimana adanya, tanpa siksaan dan hinaan? Kedua, apakah kalian mengharapkan kebebasan atau sudah puas dengan perbudakan? Ketiga, apa yang terbersit di hati kalian untuk menumbuhkan kebanggaan kita sebagai anjing?”

Warga anjing menapakkan wajah bloon. “Ada yang aneh dari Pak Bos, mengapa tiba-tiba dia berkata demikian?” Bisik-bisik anjing di sebelah utara. “Tidak usah kamu risaukan, mungkin ada kejadian yang membuatnya tercerahkan.

“Ghuk, ghuk...”

“Kamu Rena, coba katakan sesuatu.”

“Secara pribadi saya menginginkan kehidupan mandiri. Tidak lagi mengharapkan belas kasihan manusia, maupun mengais-ngais sampah manusia. Saya ingin berburu sendiri untuk mengenyahkan rasa lapar. Tetapi apakah itu bisa di tengah-tengah kehidupan yang berangsur-angsur mengarah modernisme ini. Di mana lahan kita berburu?”

Kili menjawab dengan kewibawaan seorang ketua: “Kegelisahanmu sama seperti saya. Hal ini bisa kita siasati dengan membuat perjanjian bilateral dengan manusia. Untuk menuju ke sana kita harus membuat singgasana anjing yang kuat. Kekuatan inilah yang membuat daya tawar kita tak lagi diremehkan oleh manusia.”

Kita adalah anjing yang memiliki kekuatan daya dengus yang kuat dalam mengejar maling. Keamanan dusun aman oleh kita. Inilah potensi kita. Tinggal bagaimana kita menyolidkan internal kita.

Jadi posisi kita dengan manusia adalah kolega, bukan lagi budak. Kita siap mengamankan dusun, asal jaminan kehidupan dari manusia telah kita pegang, dan manusia tidak bisa memerintah kita seenaknya tanpa kesepakatan lebih lanjut.

“Singgasana Anjing sudah saatnya berkibar tegak.” Kili berteriak lantang dihadapkan audiens. “Hidup Anjing.....!” Gonggongan anjing pun menggema.

***
Lombok, pulau kecil yang memiliki eksotisme pantai yang mencengangkan. Tradisi dan budaya yang berkembang diwarnai nuansa Bali yang cukup kental, walaupun Islam tetap dominan. Terang saja, 150 tahun Lombok dijajah Bali, hingga ada yang bilang: “Kamu bisa melihat Bali di Lombok, tetapi kamu tidak bisa melihat Lombok di Bali.”

Warga Lombok adalah manusia dan anjing. Guyonan tersebut ada karena populasi anjing adalah populasi yang cukup besar di tengah-tengah masyarakat. Seperti halnya di Bali. Wabah rabies pun mencekam warga. Dinas Kesehatan setempat sudah merancang program pembersihan anjing rabies dan memvaksinasi anjing yang belum mengidap.

Apa yang dicanangkan oleh Dinas Kesehatan mendapat tanggapan antusias dari warga. Warga sudah jenuh dengan anjing yang sakit-sakit—tidak lagi dibutuhkan untuk mengamankan daerah. Akan tetapi, ada beberapa warga yang sangat mencintai anjingnya enggan menyerahkan anjingnya untuk dimusnahkan dengan cara dibakar. Mereka berdalih, mereka adalah juga makhluk hidup yang harus mendapatkan kehidupan yang layak pula seperti manusia.

Program berlanjut. Pamflet-pamflet disebar sampai ke pelosok-pelosok desa. Sosialisasi dilakukan serentak. Tidak ada kendala berarti bagi Dinas Kesehatan dalam mengendalikan program tersebut. Anjing-anjing yang positif mengidap rabies dikumpulkan di tanah lapang yang sudah dimodifikasi dengan lubang seperti galian kubur. Mereka disuntik racun yang membuat regangnya nyawa, kemudian dibuang ke lubang tersebut. Setelah terkumpul puluhan anjing, bensin dituangkan, api pun disulut. Asap hitam melambung tinggi mewarnai langit biru. Abu-abu berserakan. Lubang ditutup dengan gundukan tanah.

***
Rena tergopoh-gopoh menghadap Kili. “Bos, di utara lembah, ada asap tebal membumbung di udara. Ada yang mengatakan itu adalah pemusnahan anjing. Saya segera menuju ke sana, ternyata benar. Saudara-saudara kita dibantai.”

“Bangsat, apa mau mereka? Segera kumpulkan saudara-saudara kita, tanpa ada yang terlewat satu pun.”

Semua berkumpul. “Kita telah kecolongan. Manusia dengan seenaknya membasmi saudara-saudara kita yang tinggal di utara lembah. Saya yakin kejadian itu akan meluas. Siapkah kalian menunjukkan taring kepada manusia, kita serang mereka....!”

Dengan semangat yang membara demi raibnya penjajah, dan tegaknya singgasana anjing. Ratusan anjing berlari kencang menuju lokasi kejadian. Mereka menyalak manusia yang masih menyuntik anjing dan membakarnya. Manusia kelagapan menghadapi serangan tersebut. Baku hantam akhirnya tak dapat terelakkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar