Sabtu, 17 Januari 2009

Yang Katanya Primitif dan Modern

Aku mengerti kalau aku kecil. Aku tak lebih dari anak kecil yang berusaha memahami kedewasaannya karena yang besar menertawakanku dengan menyematkan doktrin kebenaran. Masyarakat primitif, mereka suka sekali mengajakku mengelilingi arkeologi budayanya, menganggap semua kebanggaan yang mereka miliki pantas diketahui anak kecil. Padahal tak sedikit pun rasa tahuku memintaku untuk mengejarnya. Aku hanya sedikit menganggukkan kepala dan sesekali mencibir di dalam hati.

Kemudian mendung mulai terlihat di pucuk kegarangan langit yang tampak canggung, semakin garang pula mereka menjejalkan ragam arti melalui tanda. Jari telunjuk sang tokoh mengacung di antara genggaman jari-jari lainnya; “Lihat itu, sebentar lagi kegetiran hujan merayapi kami. Suka cita penyabutan harum tanah tak lama lagi dipersiapkan, segenap warga memeriahkan adonan lahan pangan untuk satu musim. Ya, musim ini akan berjalan bersama kemesraan karena kegarangan langit mulai menampakkan keramahannya melalui hujan yang bertalu-talu tanpa membanjiri lahan, yang menjadikan sebab gagalnya panen.”

Rupa-rupa kelakuan mereka yang sempat aku perhatikan; mengayak serpih ketan hitam yang baru saja disemai, wanita-wanita tua mengganjal bibirnya dengan sirih, “untuk memperkuat gigi,” kata nenek di sebelah kiriku, “umurku sudah enam puluh lima, gigiku tinggal tujuh, tapi yang satu tinggal separuh, harta yang paling berharga, yang harus aku jaga sampai mati,” sambil menunjukkan gigi kemerahannya, ia berkata bangga. Suara-suara desingan anak panah tak jarang terdengar melintasi telinga kiri dan kanan, babi-babi pun terkapar bergantian meregang nyawa, sebagai pertanda awal dimulainya pesta babi guling. Mereka, paling tidak seminggu sekali di Kamis malam, berkumpul bersama menyuarakan seruan alam, yang diakhiri dengan persematan babi guling.

Berjalan lebih jauh memasuki kedalaman hutan. Terpahat rapi di dinding batang-batang pohon ukir-ukiran persembahan dewa-dewi. Ada yang menarik perhatianku. Di pohon beringin terdapat gambar laki-laki kekar yang mengangkat lingkaran besar seperti globe. Aku menjadi heran, apakah mereka sudah mengetahui bahwa bumi itu bulat? Tak jauh dari sana, memanjang gambaran api yang tersulut di tengah-tengah pemukiman padat mengelilingi batang pohon. Benar-benar menggambarkan kebakaran hebat yang pernah terjadi. Di banyak batang terlukiskan pelbagai bentuk persembahan kepada dewa dan dewi. Corak kegiatan dan wajah dewa tertentu terpampang jelas. Dewa langit memiliki back ground biru putih yang meluas dengan tangan kanan terjulur ke atas dan tangan kiri menunduk. Masyarakat yang menyembahnya beramai-ramai sempoyongan maju mundur sambil menengadahkan kepala dan kedua tangan ke atas, berjuntai ke kanan dan ke kiri. Jadi, jika ada seorang peneliti ingin mengetahui seluk beluk kehidupan tradisi masyarakat kanibal cukup datang ke hutan dan mendalami apa yang terselubung di balik gambar yang terpahat di batang-batang pohon.

Ke luar dari hutan menemui tumbuh-tumbuhan bakau, kemudian terlihat debur ombak dan kemilau pasir. Terlihat lengang, hanya lautan yang tampak meluas. Aku mendesir di bibir pantai, berlarian kecil menyibak ombak. Terlihat bening, ubur-ubur yang mengaram begitu lucu ditabrak arus. Aku sedikit ke tengah. Karang laut melambaikan tangannya menyapaku, aku pun tersenyum. Ikan-ikan kecil tak kalah menggemaskan. Mereka bersenggama dengan bulu-bulu kedua kakiku. Geli aku dibuatnya.
***
Hari menggunakan senja untuk menikam malam. Bintang-bintang mulai bermunculan lamat-lamat membuat petuah. Pak tua berbaju merah menyolok mata di kegelapan, sedang merapal kata-kata. Tangan kanannya memegang api bohlam, sembari memandang ke atas kemudian menggeser sedikit pandangan ke kiri, jari telunjuk kiri menunjuk sesuatu, “rasi itu membenarkan sesuatu. Aku harus segera pulang.”

Seakan ada hal yang dikhawatirkan, pak tua berlari menyibak hutan, segera menuju perkampungan. Kaki tua itu berubah menjadi sepakan kuda yang begitu mencekam, tak ayal jika semak enggan berusaha memperlambat laju pak tua. “Menyongsong kaki pak tua berarti bunuh,” pikir semak berapologi. Apalagi pekat malam yang semakin menghitam, beranjak sedikit dari kehitaman membuat dirinya bergidik. Ia tahu pak tua memiliki mata seperti senter. Mengeluarkan cairan hitam adalah sia-sia. Kegetiran pak tua memuncak, tatapan jauh menghadirkan warna merah kekuningan menjilati langit-langit, diiringi kepulan biru yang memutih keabu-abuan. Tetapi langit tetap saja pongah, ketenangan wajahnya tak bergeser sedikit pun. Malahan dari titik semburat bintang itu terlihat senyum manis kecut langit, sebagai wujud kegembiraan yang menertawakan. Perhatian terpacu untuk segera menghadirkan kepastian, pak tua terus saja berlari; Memakan lemah yang telah lama hinggap di tubuh lapuknya.

Sementara aku bersandar di tubuh pohon besar, memperhatikan genangan suara kegetiran yang semakin lama semakin keras terdengar, dan suara kaki berlari semakin lama semakin terdengar tipis; apa yang sedang terjadi, pak tua yang aku lihat tadi tampak tergesa-gesa kini samar-samar mendekat.

“Bodoh, anak kecil, cepat pergi!”

”Bangsat,” aku membentak kesakitan.

“Tetap tak beranjak, buta matamu ya?”

Kilatan api yang semakin membesar membalut sekujur tubuh perkampungan.

“Mereka berlari ketakutan, kamu malah bersandar tak berdosa. berhargakah nyawamu demi kejahatan peradaban?”

Aku masih tak mengerti, ternyata Pak tua menghampiriku. Dia mengkhawatirkanku. Aku pun bertanya: “apa yang sedang terjadi?”

Pertanyaan itu membuatnya berlinang air mata, “ada yang aneh dengan kampung itu, waktu yang diperuntukkan mereka telah habis. Saatnya mereka menghabiskan sisa hidupnya di pinggiran. Peradaban yang ada di sebelah meminta tempat di sini, menyeruak melalui api yang berkobar. Yang tergambar di langit adalah binasanya kampung itu.

“Tidak ada yang salah dari kami,” mereka berpikir seperti itu. “Kami menghadirkan tempat yang nyaman bagi anak cucu kami, tetapi orang asing mencoba menguasai kami dengan pikiran asing. Mereka membakar sekam pikir kami dengan kejayaan materi. Sekam-sekam keteraturan yang telah kami tata tercabik-cabik dengan tipu muslihat yang mereka lakukan. Dengan dalih berdagang, mereka membenamkan pisau di belakang kami. Kepercayaan batin kami ternoda dengan Tuhan mereka.”

Mata pak tua menatap nanar kobaran api, “aku tak habis pikir, mengapa mereka menghabisi peradaban demi harga diri?”

“Tadi, setelah aku melihat tanda berakhirnya peradaban kami melalui bintang-bintang yang tersusun pucat menundukkan kepala. Ya, bintang-bintang itu membentuk siluet kepala yang pasrah meratapi nasib, tetapi di bibirnya tergores senyum kepuasan.”

Aku tetap memandang pak tua. Kemudian di berujar kembali setelah sesaat berhenti.

“Mereka adalah wajah komunal yang mendasarkan hidup kekuatan alam. Setiap langkah yang mereka tempuh adalah jalan searah yang dipakai oleh alam dalam mengarungi bahtera masa. Mereka beramah-tamah dengan tumbuh-tumbuhan dan hewan. Keniscayaan untuk bertahan hidup merupakan satu-satunya alasan untuk memanfaatkan mereka. Itu pun ada ritual khusus dalam pemanfaatannya.”

Tidak ada yang berubah dari kebingunganku: “Pak tua, ada dua “mereka” yang berlainan yang kamu sebut, siapa mereka itu?”

“Mereka yang terbakar dan mereka yang membakar. Mereka yang terbakar adalah masyarakat yang mengerti pola berputarnya roda kehidupan tanpa alat yang menjadi bumerang, sedangkan mereka yang membakar adalah masyarakat penjarah aset alam dengan sikap tamak kebendaannya, menghadirkan kebutuhan yang menghantarkan bumerang. Membuat pola instan demi kesenangan instan pula. Nanti kamu lihat sendiri bentuk-bentuk aneh olahan alam yang berlebihan.”

“Sedangkan, kejadian yang sedang berlangsung ini?”

“Mereka yang membakar menggunakan dalih sebagai penyelamat peradaban. Mereka beranggapan peradaban kampung itu tidak lebih menjanjikan dan lapuk termakan jaman daripada peradaban yang akan mereka perbuat.”

“Mereka yang terbakar, dengan menyulut api lebih kencang membenamkan diri mereka ke dalamnya. Mereka berkata: “Tidak ada yang perlu dipertahankan jika harga diri ternoda, sisa peradaban ini hanya jadi penghalang putihnya peradaban kami.” Mereka beramai-ramai masuk ke dalam api, tak menyisakan satu pun meninggalkan artefak peradaban, kecuali tutur kata yang terlahir dari mulut ke mulut.”

“Tetapi mereka keliru, mereka masih mempunyai dirimu. Mereka masih mempunyai harapan.”
***
Aku terhentak di persimpangan jalan. Ternyata aku berdiri di antara primitif dan modern. Aku adalah peninggalan primitif yang hidup di jaman modern. Kesendirianku membawa kesadaran sebuah penamaan. Mereka yang mengatakan jaman di mana mereka hidup adalah jaman modern adalah yang menamakan masa jauh ke belakang di mana mereka meratapi sejarah adalah jaman primitif.

Yogyakarta, 15 Januari 2009

Tidak ada komentar:

Posting Komentar