Minggu, 08 Februari 2009

Panitia Hari Kiamat


Saya gemetar semalam. Bayang besar dan gelap menyeruap di ubun-ubun saya, kemudian beralih ke telinga saya; ia membisikkan: "Selamat Anda terpilih menjadi Ketua Panita Hari Kiamat." Tak puas dengan statement itu, saya mencoba berkomunikasi dengannya; "Apa yang Anda katakan tidakkah terdengar lucu?" Suasana senyap menyertai, dan hanya sungging senyum yang saya dapatkan, Ia menghilang tiba-tiba.

Berlanjut ke esok, ia datang lamat-lamat, menyembunyikan diri di balik selimut tebal saya. "Hai, yakinlah dengan keputusan yang dibuat Tuanku. Tuanku tidak mungkin salah memutuskan sesuatu. Anda adalah orang yang tepat." Lagi-lagi ia berbisik, dengan sedikit menghardik. Saya berkacak pinggang. Saya benamkan selimut lebih dalam, saya mencoba menghadirkan ruang tidur. Tetapi kata-kata itu terus terulang sepanjang malam.

Pagi yang mengais sinar menoleh kecut. Saya heran, tak biasanya ia berbuat demikian. Pagi-pagi yang selama ini saya temui adalah pagi yang ramah dan penuh rasa bersahabat. “Apakah pagi ini adalah musuh pagi-pagi sebelumnya?” Ah, saya enggan berbalik, toh lorong masa depan masih gelap dan saya harus membawakannya obor.

Beranjak siang saya masih tergenang di ranjang keras warisan kakek. Mata yang tak mampu terpejam sempurna semalam, membuat mata memerah, menampakkan kantuk. Saya gusar; membolak-balikkan badan menambah sesaknya hati. Berusaha menyingkir hanya mampu menggumamkan kekesalan, tak lebih dari itu. Sepintas tergambar sebuah pantulan. Kontan saya menyibakkan selimut, bergegas ke kamar mandi. Saya tutup pintu kamar mandi keras-keras. Saya tersentak dengan apa yang saya lihat barusan. Saya membasuh muka, berharap menghilangkan bayang getir tadi. Ketakutan yang mengental masih tergambar jelas di pelupuk batin saya yang tertaut melalui mimik wajah.

Malam menggunakan senja untuk menikam siang. Malam mencabut tutup kantung sinar mentari, sehingga tetesan sinar lama-lama hanyut ke comberan. Mulut saya tengadahkan di bawah pipa comberan, kemudian saya menelannya. Saya berharap tubuh ini bersinar terang. Jika nanti bayang gelap dan besar itu datang kembali, ia akan silau terkena sinar tubuh saya. Saya pun tertawa melihatnya berlari terbirit-birit.

Semakin larut, ia pelan-pelan menghampiri saya dengan menjinjitkan kedua kakinya; membuka ujung selimut, mendekatkan mulutnya ke telinga saya: "Selamat Anda terpilih menjadi Ketua Panitia Hari Kiamat." Saya menyeringai kehadirannya dan berusaha menguasai diri. Sejenak tidak ada desir suara yang mengudara. Kemudian saya memutuskan untuk berbicara baik-baik dengannya, "bolehkah saya bertanya?" Ia pun menjawab: "Saya adalah hamba yang diutus untuk menyampaikan kabar ini kepada Anda. Tuanku menginginkan kepastian segera dari Anda. luapkan saja apa yang mengganjal!"

"Apa hari kiamat itu, sehingga memerlukan panitia untuk melaksanakannya?"

Kami terdiam cukup lama setelah saya melontarkan pertanyaan tersebut. Ternyata ia kebingungan. Ia pun meminta izin untuk menghadap Tuannya sebentar; "Besok, saya kembali lagi." Ia melenggang pergi. "Sebentar, tanyakan juga pada Tuanmu, kenapa Ia memilih saya?" Ia menoleh dan berbalik mengangguk.

Hati saya sedikit tenteram melihat ia pergi tanpa membawa kegetiran. Seolah-olah tidak ada kejadian yang mencengangkan, saya berbaur dengan keluarga. Ayah yang setiap paginya menyeruput kopi dan rokok yang tersandar di asbak melihat saya mendatanginya. Ia menutup surat kabar harian pagi. "Apa yang kamu risaukan, tak biasanya kamu tampak kuyu sekaligus terlihat lega." Saya mengambil posisi di sebelah kanan ayah. Saya dekatkan mulut saya di telinga ayah, "apa hari kiamat itu, ayah?" Sejenak ia terhenti, kemudian mengambil rokoknya dan menghisapnya pelan-pelan. "Misteri itu tergambar di banyak kitab suci. Kamu bisa tahu dan membandingkannya di sana." Kata-kata yang terucap bersama keluarnya asap rokok itu membuat saya semakin gelisah. "Selalu saja begini, jawaban instan tak mungkin saya dapat dari ayah." Ayah pun beranjak mengajak sarapan.

Ya, saya mengambil beberapa kitab suci dan mempelajarinya. Secara pribadi saya kagum dengan ayah. Koleksi kitab sucinya tidak hanya enam agama yang diakui di Indonesia. Ia juga memiliki arsip-arsip penting pelbagai macam aliran kepercayaan di dunia. Bagi saya, masih terlampau jauh saya mempelajarinya semua karena penguasaan macam-macam bahasa yang tersaji masih terlalu minim, walaupun sering kali ayah mengajariku tentang teks-teks kuno. Saya putuskan untuk mengambil kitab-kitab suci agama semit dan referensi yang mendukungnya

Ketiganya berbicara hampir serupa, mungkin yang berbeda adalah alur cerita. Setelah mempelajarinya cukup lama, bisa saya simpulkan bahwa hari kiamat adalah saat dimana dunia ini menemukan akhir dengan ditandai kehancurannya, sebagai pintu masuk kehidupan baru; kehidupan yang memiliki rasionalisasi kausalitas—apa yang telah diperbuat memiliki ganjaran. Kehidupan baru inilah kehidupan yang merupakan konsekuensi dari kehidupan sebelumnya.

Benak saya melayang, “apakah hari kiamat adalah sebuah event, sehingga membutuhkan organizer? Sejak kecil saya didoktrin bahwa Tuhan itu Maha Kuasa. Sekali sebul apa yang dikehendaki terjadi. Apa Tuhan menitahkan ini kepada manusia untuk merangkum dunianya sendiri? Di salah satu kitab dijelaskan bahwa datangnya hari kiamat ditandai dengan berbagai ciri. Beberapa diantaranya adalah banyaknya populasi wanita daripada laki-laki, maraknya bangunan-bangunan yang menantang langit, megahnya tempat ibadah tetapi sepi jumlah jamaahnya, dan tanda yang paling dekat adalah terbitnya matahari dari sisi barat. Digambarkan ketika hari kiamat datang, orang-orang yang dijanjikan selamat akan lebih dulu mati, tidak merasakan ganasnya guncangan bumi. Dikisahkan juga ada sosok yang mengerikan, yang menghasut manusia untuk menjadi kafir. Kemudian datanglah sang juru selamat, yang membawakan kedamaian iman.”

“Ah,” ayah menepuk bahu saya. “Ada yang masih kurang jelas?”

“Kematian?” Spontan saya berbicara, “Kenapa tiba-tiba saya bertanya tentang kematian?”

“Kematian akan terjawab setelah kamu merasakannya, selama ini yang beredar adalah panduan bagaimana mati yang baik. Ontologi kematian hanyalah spekulasi.” Mendengar jawaban ayah yang terkesan menggantung itu, saya pergi meninggalkannya sembari memacu kerja otak. Saya kembali ke kamar. Waktu yang tersisa sebelum datangnya malam, saya pergunakan untuk terus menerka-nerka jawaban apa yang diberikan si bayang besar dan gelap itu.

Kematian menurut saya lebih misteri karena kematian sangat dekat dengan manusia dan setiap waktu terjadi, sedangkan menggapai hari kiamat hanyalah dongeng penerka masa. Tetapi pertanyaan yang sering terlontar adalah sama, kejadian apa selanjutnya.

***

“Mungkinkah kejadian yang saya alami dua hari ini hanyalah mimpi? Tetapi hadirnya sosok itu begitu nyata. Hampir tidak mungkin kalau itu mimpi. Jika memang bukan mimpi, ia pasti datang malam ini. Jangan-jangan dia adalah Jibril. Seperti Muhammad ketika menerima wahyu Tuhan untuk pertama kalinya, Jibril terlihat garang di hadapan Muhammad, sehingga Muhammad begitu ketakutan. Tidak mungkin, nanti saya dituduh macam-macam sama otoritas institusi agama. Atau sedang terjadi halusinasi. Itu lebih masuk akal, tetapi gejala apa yang mampu menyebabkan saya berhalusinasi, tidak ada kejadian yang mengguncang mental sebelum kejadian ini.”

“Dddaaaar.....” Pintu kamar tertutup. “Klik,” pintu kamar terkunci. Saya menggigil. Hawa dingin perlahan memasuki ruangan. Dinding terasa lembab. Di luar hujan lebat. Langit hitam semakin pekat. Pucat pasi wajah saya. Selimut menjadi pelindung tubuh.

“Anda tidak perlu ketakutan seperti itu, kami datang baik-baik. Kami memerlukan kerja sama Anda.” Saya tersentak, ia benar-benar datang, tidak lagi dengan bayang gelap dan besar. Ia membawa seorang teman. Mereka seperti mengenakan seragam resmi kahyangan, berwarna putih seperti jubah pak haji tetangga saya. Yang jelas mereka bukan manusia. Saya yakin itu. Mereka melayang di atas tubuhku.

“Apakah yang di sebelahmu itu Tuanmu?” Tiba-tiba mulut saya berbicara tenang.

“Bukan, dia sama dengan saya. Tuan kami tidak mungkin bertatap muka dengan Anda, kecuali setelah peristiwa besar itu terjadi.”

“Jawaban apa yang telah kamu dapatkan?” Saya tidak ingin lagi berbasa-basi.

Seakan ingin segera menyelesaikan tugasnya, mereka menjelaskan bergantian: “Hari kiamat memang sebuah peristiwa besar dari sebuah perjalanan. Maka dari itu, Tuan kami membutuhkan manusia hebat untuk membuat pola yang ideal. Andalah orang yang tepat.”
“Bukankah Tuan kalian adalah Tuan saya juga? Jika memang ya, bukankah Tuan kita adalah Maha Kuasa, Penguasa jagat raya? Mengapa membutuhkan orang bodoh seperti saya?”

“Ya, Tuan kita adalah sama. Sebelum kehidupan diciptakan, Dia sudah merencanakan segala sesuatunya tentang awal dan akhir. Tuan kita Maha Tahu.”

“Kami tidak membawa jawaban pasti. Dia tidak memberi gambaran. Dia hanya memberi ini.” Tiba-tiba dada saya terasa sesak, dan semakin sesak beberapa saat, serasa tertindih sesuatu. Kalimat terakhir yang terucap tadi terdengar kencang dan menghempaskan sesuatu. Lamat-lamat bayang putih mulai memudar.

Saya akhirnya tertidur. Keesokan harinya pagi tersenyum indah. Ia melihat surat pernyataan bermaterai: “Saya yang bertanda tangan di bawah ini menyatakan kesanggupannya untuk menjadi Ketua Panitia Hari Kiamat.” Saya membubuhkan tanda tangan.

Yogyakarta, 5 Februari 2009

Tidak ada komentar:

Posting Komentar